Jumat, 17 April 2020

TUGAS MAKALAH THALASEMIA


MAKALAH HEMATOLOGI III
“MEMAHAMI DEFINISI THALASEMIA DAN PENEGAKAN DIAGNOSIS BERDASARKAN TES SARING DAN TES DIAGNOSTIK”
Description: Description: C:\Users\ACER\Pictures\IMG-20190413-WA0033.jpg

DISUSUN OLEH:

 NAMA            : ENCENG JULDATI N. NUNDA
 NIM                 : 18 3145 353 108
 KELAS           : 2018/C


PROGRAM STUDI D-IV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT, DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020





KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatu
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmat dan karunianyalah sehingga makalah “HEMATOLOGI III” ini dapat kami selesaikan, sesuai dengan judul makalah ini yaitu ,memahami definisi thalassemia dan penegakan diagnosiss berdasarkan tes saring dan tes diagnostik, Kami yakin bahwa makalah kami tidak akan selesai tanpa bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu kami berterima kasih kepada teman-teman kami karena berkat bantuan mereka maka makalah ini dapat terselesaikan.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu saran dan kritik dari ibu dan teman-teman akan kami terima dengan senang hati. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bermanfaat baik bagi kami sendiri maupun pembacanya. Amin ya rabbal alamin.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.

                Makassar, 17 April 2020
                Penyusun


                Enceng Juldati N.N









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang  ................................................................................... 4
B.     Rumusan Masalah  ............................................................................... 4-5
C.     Tujuan  ................................................................................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A     Definisi Thalasemia  ............................................................................ 6
B.     Tipe Thalasemia  .................................................................................. 7-8
C.      Definisi Molekul Hemoglobin Normal  .............................................. 8-10
D.    Klasifikasi Klinis dan Klasifikasi genetik  ........................................... 10-12
E.     Patofisiologi Thalasemia....................................................................... 12-13
F.      Diagnosis Thalasemia  ......................................................................... 13-14
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan  ......................................................................................... 15
B.     Saran  ................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
            Thalassemia merupakan gangguan sintesis hemoglobin (Hb), khususnya rantai globin, yang diturunkan. Penyakit genetik ini memiliki jenis dan frekuensi terbanyak di dunia. Manifestasi klinis yang ditimbulkan bervariasi mulai dari asimtomatik hingga gejala yang berat. Thalassemia dikenal juga dengan anemia mediterania, namun istilah tersebut dinilai kurang tepat karena penyakit ini dapat ditemukan dimana saja di dunia khususnya di beberapa wilayah yang dikenal sebagai sabuk thalassemia (Nila, 2018)
Thalasemia adalah kelainan genetik dari sintesis rantai globin dengan manifestasi klinik yang bervariasi tergantung dari jumlah dan tipe rantai globin yang dipengaruhi. Penyakit thalasemia terutama thalasemia ß termasuk penyakit yang memerlukan pengobatan dan perawatan yang berkelanjutan dengan adanya pemberian transfusi yang terus menerus dan kelasi besi. (Dini, dkk, 2014).
            Thalassemia merupakan kelainan genetik terbanyak di dunia. Kelainan ini diturunkan secara resesif menurut hukum Mendel. Penyakit yang semula ditemukan di sekitar Laut Tengah ini ternyata tersebar luas sepanjang garis khatulistiwa, termasuk Indonesia. Tidak kurang dari 300.000 bayi dengan kelainan berat penyakit ini dilahirkan setiap tahun di dunia, sedangkan jumlah penderita thalassemia heterosigotnya tidak kurang dari 250 juta orang. (Iskandar, 2008)
B.        RUMUSAN MASALAH
1.       Apa itu Definisi Thalasemia  ?
2.       Apa itu Tipe Thalasemia  ?
3.      Apa itu Definisi Molekul Hemoglobin Normal  ?
4.       Bagaimana Klasifikasi Klinis dan Klasifikasi genetic Thalasemia  ?
5.      Bagaimana Patofisiologi Thalasemia ?
6.   Bagaimana cara Diagnosis Thalasemia  ?
C.  TUJUAN
1.      Untuk Mengetahui Definisi Thalasemia 
2.      Untuk Mengetahui Tipe Thalasemia 
3.      Untuk Mengetahui definisi Molekul Hemoglobin Normal 
4.      Untuk Mengetahui Klasifikasi Klinis dan Klasifikasi genetik Thalasemia
5.      Untuk mengetahui patofisiologi Thalasemia
 6.   Untuk Mengetahui Diagnosis Thalasemia 
           

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI THALASEMIA 
                Thalassemia merupakan penyakit kelainan genetik yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin sehingga hemoglobin penderitanya mudah rusak dan mengalami penurunan. Hemoglobin adalah molekul yang ditemukan dalam sel darah merah yang diperlukan untuk mengangkut O2 dari paru-paru ke jaringan tubuh dan CO2 dari jaringan tubuh kembali ke paru-paru, dan untuk memberikan pigmen merah ke sel darah merah. (Neli, 2019).
Sel darah putih yang bertugas sebagai sistem pertahanan tubuh terhadap ancaman seperti virus, bakteri, serta organisme berbahaya lainnya yang dapat menyebabkan infeksi serta penyakit; trombosit diperlukan untuk membekuan darah; sel-sel darah merah juga memiliki peran penting mempertahankan kehidupan termasuk dalam pengangkutan oksigen. Oksigen juga bertanggung jawab dalam berbagai fungsi, utamanya sintesis sel. Oksigen juga berperan penting dalam sistem metabolisme tubuh. Untuk mengangkut oksigen ke seluruh bagian tubuh, oksigen mengikatkan diri ke hemoglobin yang menghasilkan warna merah pada sel. Hal ini memungkinkan sel untuk mengangkut oksigen dari paru-paru menuju ke jaringan tubuh lainnya. Pada waktu yang sama, hemoglobin pun mengangkut karbon dioksida yang sekarang menjadi limbah tubuh sehingga bisa dihembuskan keluar melalui paru-paru.
       Sel darah merah (eritrosit) merupakan komponen darah yang jumlahnya paling banyak. Sel darah merah normal berbentuk cakram dengan kedua permukaannya cekung atau bikonkaf, tidak memiliki inti, dan mengandung hemoglobin. Kelainan pada sel darah merah terjadi karena sel darah merah dan/atau masa hemoglobin yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh yang sering disebut dengan anemia. Ada dua tipe anemia yaitu anemia gizi dan non-gizi. Anemia gizi terjadi akibat kekurangan gizi, sedangkan anemia non-gizi disebabkan oleh kelainan genetik. Salah satu penyakit anemia non-gizi yang sering diderita adalah Thalasemia. (Esti, 2015)
B. TIPE THALASEMIA 
     Thalasemia Betha merupakan kelainan yang disebabkan oleh kurangnya produksi protein Betha. Thalasemia Betha dibagi menjadi Thalasemia Betha Trait (Minor), Thalasemia Intermedia, Thalasemia Major (Cooley’s Anemia). Thalasemia β Mayor atau Thalasemia Major mengalami perubahan bentuk abnormal pada sel mikrositik yang menjadi ciri dominan, eritrosit berinti (eritroblast), small fragment dan sel target. Mikrositik merupakan sel darah merah yang memiliki ukuran lebih kecil dari sel darah merah normal dan juga lebih kecil dari intisel (nukleus) pada sel darah putih atau < 6µm. Eritroblast merupakan eritrosit yang masih muda. Small fragment merupakan pecahan sel darah merah. Sel target merupakan sel darah merah yang menyerupai bentuk target seperti mata sapi. Thalasemia Betha (β) Mayor ditandai dengan rusaknya sel darah merah serta perubahan morfologi pada sel darah merah yang meliputi bentuk dan ukuran sel. Perubahan tersebut ditandai dengan adanya sel-sel abnormal yaitu sel mikrositik, eritrosit berinti (eritroblast), small fragment dan sel target (leptocytes). Mikrositik merupakan sel darah merah yang mempunyai ukuran sel lebih kecil dari sel darah merah normal yaitu berukuran < 6µm, eritroblast merupakan eritrosit yang masih muda, mempunyai ukuran yang sama dengan sel darah putih tetapi inti sel cenderung keluar, small fragment merupakan pecahan sel darah merah sedangkan sel target merupakan sel darah merah yang menyerupai bentuk seperti mata sapi. (Esti, 2015)
            Thalasemia diklasifikasikan berdasarkan molekuler menjadi dua yaitu thalasemia alfa dan thalasemia beta. Thalasemia Alfa Thalasemia ini disebabkan oleh mutasi salah satu atau seluruh globin rantai alfa yang ada. Thalasemia alfa terdiri dari Silent Carrier State Gangguan pada 1 rantai globin alfa. Keadaan ini tidak timbul gejala sama sekali atau sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak lebih pucat. Alfa Thalasemia Trait Gangguan pada 2 rantai globin alpha. Penderita mengalami anemia ringan dengan sel darah merah hipokrom dan mikrositer, dapat menjadi carrier. Hb H Disease Gangguan pada 3 rantai globin alfa. Penderita dapat bervariasi mulai tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia yang berat yang disertai dengan perbesaran limpa. Alfa Thalassemia Mayor Gangguan pada 4 rantai globin alpha. Thalasemia tipe ini merupakan kondisi yang paling berbahaya pada thalassemia tipe alfa. Kondisi ini tidak terdapat rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA atau HbF yang diproduksi. Janin yang menderita alpha thalassemia mayor pada awal kehamilan akan mengalami anemia, membengkak karena kelebihan cairan, perbesaran hati dan limpa. Janin ini biasanya mengalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Thalasemia Beta Thalasemia beta terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin beta yang ada. (Linda, 2007) .Thalasemia beta terdiri dari :
a. Beta Thalasemia Trait. Thalasemia jenis ini memiliki satu gen normal dan satu gen yang bermutasi. Penderita mengalami anemia ringan yang ditandai dengan sel darah merah yang mengecil (mikrositer). b. Thalasemia Intermedia. Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa produksi sedikit rantai beta globin. Penderita mengalami anemia yang derajatnya tergantung dari derajat mutasi gen yang terjadi.
c. Thalasemia Mayor. Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi rantai beta globin. Gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang berat. Penderita thalasemia mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup sehingga hampir tidak ada oksigen yang dapat disalurkan ke seluruh tubuh, yang lama kelamaan akan menyebabkan kekurangan O2, gagal jantung kongestif, maupun kematian. Penderita thalasemia mayor memerlukan transfusi darah yang rutin dan perawatan medis demi kelangsungan hidupnya
C. MOLEKUL HEMOGLOBIN NORMAL 
 Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut zat asam dari paru-paru ke seluruh tubuh, juga memberi warna merah pada eritrosit. Hemoglobin manusia terdiri dari persenyawaan hem dan globin. Hem terdiri dari zat besi (Fe) dan globin adalah suatu protein yang terdiri dari rantai polipeptida. Hemoglobin pada manusia normal terdiri dari 2 rantai alfa (α) dan 2 rantai beta (β) yang meliputi HbA. (Linda, 2007)
       Molekul hemoglobin normal adalah tetramer yang terdiri dari 2 rantai a dan 2 rantai non a (b, g dan d). Hemoglobin dewasa normal terdiri dari HbA (2 b2 ) HbA2 (a2 d2) dan HbF (a2 g2 ). Selama janin berada dalam kandungan di kenal juga adanya polipeptida lain misalnya rantai epsilon dan zeta.8 Gangguan sintesis globin dapat terjadi pada rantai a (Talasemia a) maupun rantai b (Tala semia b). Talasemia a biasanya disebabkan oleh suatu delesi atau hilangnya gen a yang terletak pada kromosom nomor 16. Jenis Talasemia ini sering dijumpai pada daerah laut tengah dan sekitarnya. (Linda, 2007) Berdasarkan jumlah gen yang mengalami mutasi, maka Talasemia a dibagi menjadi :
1. Talasemia a Heterozigot (genotip :-a/aa ). Bila satu gen yang hilang dan hanya sedikit berpengaruh pada fungsi darah, kadar MCV kurang dari normal, tidak ditemukan anemia, elektroforesis Hb memberikan pola yang normal.
 2. Talasemia aHomozigot (genotip:-a/-a) dan Talasemia a Heterozigot (genotip : aa) terjadi karena 2 gen a hilang dan mengakibatkan, anemia ringan, ditandai dengan kadar MCV menurun dan terdapat banyak inclusiones bodies pada eritrosit serta pola elektroforesis Hb normal.
3.  Hb H disease (genotip —/-a), terjadi akibat hilangnya 3 gen a dan biasanya ditandai dengan anemia sedang sampai berat, kadar MCV dan MCH menurun, pada eritrosit terdapat banyak inclusiones bodies. Elektroforesis Hb menunjukkan kadar HbA2 menurun, kadar HbH dapat mencapai 40% dan kadangkadang terdapat Hb Bart’s (g4).
4) Hb Bart’s hydrops fetalis  disebabkan oleh hilangnya semua gen a dan berakibat fatal, biasanya janin sudah meninggal ketika masih dalam kandungan atau, segera sesudah lahir. Penimbunan air terjadi pada jaringan-jaringan tertentu, terutama pada bagian perikardial dan toraks. Pada elektroforesis hanya terdapat Hb abnormal saja dalam sirkulasi yaitu Hb Bart’s mencapai 80% dan selebihnya adalah Hb Portland dan HbA.
       Talasemia β berbeda dengan Talasemia α yang disebabkan karena delesi gen, maka Talasemia β biasanya disebabkan oleh suatu mutasi titik (noktah) pada beberapa unit nukleotida gen globin β. Talasemia β sering dijumpai di Asia terutama di India dan dataran Cina serta Asia Tenggara termasuk Indonesia. Berdasarkan ada atau tidaknya produk rantai globin β yang dibentuk oleh gen yang mengalami mutasi, Talasemia β dibedakan menjadi 2 golongan : Talasemia β0 dan Talasemia β+. Berdasarkan kerusakan gen maka Talasemia -β dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
     1. Talasemia -β0 atau Talasemia -β+ homozigot. Diakibatkan karena semua gen β mengalami mutasi pada tempat yang sama. Bentuk -β0 menunjukkan gejala klinis yang parah dengan anemia sangat berat dan berakibat fatal jika tidak segera mendapat perawatan dan transfusi darah karena Hb A tidak dibentuk sama sekali. Bentuk β+ secara klinis juga menunjukkan anemia berat dengan kadar Hb A yang beredar berkisar antara 5-30 %.8 Bentuk homozigot dari kedua Talasemia -β ini menunjukkan adanya kenaikan kadar HbA2 dan Hb F yang meningkat. Kadar MCV dan MCH menurun dan banyak terdapat normoblast dalam sirkulasi. Mekanisme meningkatnya kadar HbA2 dan Hb F adalah sebagai berikut : HBA2 tidak terdapat pada bentuk β0 dan terdapat sedikit pada β+.
2. Talasemia β0 dan Talasemia β+ heterozigot . Terjadi akibat terjadinya mutasi pada salah satu gen β. Biasanya ditandai oleh anemia sangat ringan (pada bentuk β+) dan anemia ringan sampai sedang (pada bentuk β°) tetapi secara klinis tidak tampak. Kadar MCV dan MCH menurun dan terdapat bercak-bercak (stipling) yang khas pada eritrositnya, kadar HbA2 dan HbF dalam Sirkulasi meningkat dan kadar Hb A menurun.
D. KLASIFIKASI KLINIS DAN KLASIFIKASI GENETIK THALASEMIA
     Menurut Yuki, pada tahun 2009 klasifikasi klinis yaitu :
            Secara klinis Talasemia dibagi menjadi :
1.  Talasemia Mayor (homozigot dan heterozigot ganda) atau anemia Cooley yang ditandai dengan anemia berat.
2     Talasemia intermedia yaitu Talasemia β dimana keadaan klinis lebih ringan dari Talasemia Mayor tetapi lebih berat dari Talasemia Minor dan merupakan bentuk peralihan antara Talasemia Mayor dan Talasemia Minor.
3     Talasemia Minor (heterozigot) yang hanya menunjukkan anemia ringan.
4     Talasemia minimal bentuk Talasemia β yang mana biasanya tidak ditemukan abnormal klinis dan laboratorium. Penegakan diagnosis Talasemia sedini mungkin menjadi harapan bagi penderita,
Keadaan klinis Talasemia Mayor lebih berat dari Talasemia Minor, sehingga pada usia 1 atau 2 tahun sudah tampak dan segera dirujuk ke rumah sakit. Sementara itu Talasemia Minor lebih ringan dan kadangkadang gejala klinis baru tampak setelah anak berusia lebih dari 4 tahun bahkan ada yang baru tampak setelah anak berusia lebih dari 6 tahun. Semakin dini terdeteksi sebagai penderita Talasemia maka penanganan akan lebih baik untuk kelanjutan menjalani kehidupan serta adanya usaha-usaha preventif pada kelompok masyarakat tertentu. Talasemia Mayor dan Minor keduanya menunjukkan adanya anemia. Anemia disebabkan karena rantai globin b normal hanya terbentuk sedikit dan abnormal sehingga mempunyai umur yang lebih pendek dari hemoglobin normal.
Klasifikasi Genetik yaitu:
Thalassemia berdasarkan kelainan gen dibedakan menjadi a-Thalassemia dan β-Thalassemia. Alfa-Thalassemia terjadi bila terdapat mutasi satu atau lebih pada gen globin alfa dan β-Thalassemia abnormalitas terdapat pada gen globin beta Beta-Thalassemia berdasarkan gambaran klinis dibedakan menjadi dua, yaitu β-Thalassemia mayor yang umumnya menunjukkan gejala anemia berat disertai gangguan pertumbuhan, sedang penderita β-Thalassemia minor (trait) umumnya tanpa gejala atau hanya manifestasi klinik ringan saja. Gejala klinik pada penderita β-Thalassemia minor sulit dibedakan dengan jenis anemia hipokrom mikrositer lain, terutama Anemia defisiensi besi (Fe) Permasalahan ini menyebabkan banyak penderita β-Thalassemia tidak terdiagnosis dan memperoleh perawatan secara inadekuat Diagnosis β-Thalassemia minor dan Anemia Defisiensi besi dapat ditegakkan dengan melakukan serangkaian pemeriksaan laboratorium skrining, mulai dari pemeriksaan hematologi rutin, sediaan apus darah tepi, pewarnaan sediaan apus darah tepi dengan pewarnaan supravital untuk hitung retikulosit dan deteksi benda inklusi HbH dalam eritrosit, status cadangan besi darah dengan alur pemeriksaan secara bertahap hingga pemeriksaan yang canggih yaitu elektroforesis Hb dan pemeriksaan DNA Beta-Thalassemia minor dengan Anemia defisiensi besi merupakan penyakit anemia kronis dengan gambaran hipokrom mikrositer yang mempunyai gejala klinik sangat mirip sehingga sulit dibedakan. (Yuki, 2009)
β-Thalassemia minor terjadi akibat penurunan produksi rantai β yang dapat menyebabkan penumpukan rantai a. Pemeriksaan hematologi tidak dapat digunakan untuk membedakan dan menegakkan diagnosis β-Thalassemia minor dengan Anemia defisiensi besi. Pemeriksaan gold standard diagnosis β-Thalassemia minor dan anemia defisiensi besi adalah elektroforesis Hb. Hasil pemeriksaan elektroforesis Hb pada penderita β-Thalassemia minor menunjukan peningkatan HbA2, sedangkan penderita anemia defisiensi besi menunjukkan penurunan HbA2. Pemeriksaan elektroforesis Hb masih belum tersedia di setiap senter laboratorium karena untuk melakukan pemeriksaan tesebut dibutuhkan sumberdaya manusia (SDM) yang telah terlatih dan alat pemeriksaan khusus, serta biaya pemeriksaan yang cukup besar. (Yuki, 2009)
E.  PATOFISIOLOGI THALASEMIA
            Patofisiologi yang mendasari antara jenis thalassemia hampir sama, ditandai dengan penurunan produksi hemoglobin dan sel darah merah (RBC) , adanya kelebihan rantai globin yang tidak efektif, akan menyebabkan bentuk homotetramers yang tidak stabil sehingga memicu terjadinya heinz body. Alfa homotetramers pada β-talasemia lebih tidak stabil daripada β-homotetramers di α-talasemia dan sebelumnya akan terbentuk presipitasi pada RBC, menyebabkan kerusakan sel darah merah dan hemolisis yang berat oleh karena eritropoesis yang tidak efektif serta hemolisis ekstramedular. Pada β-thalassemia patofisiologinya berdasarkan karena berkurang atau hilangnya rantai globin-β yang akan mengakibatkan berlebihnya rantai-α. Maka akan terjadi penurunan produksi hemoglobin dan ketidak seimbangan rantai globin. Ini akan mengarah pada penurunan dari volume hemoglobin (MCH) dan volume eritrosit (MCV). Pada thalassemia-β yang berat, eritropoesis yang tidak efektif terjadi di sum-sum tulang akan meluas ke tulang-tulang normal dan menyebabkan distorsi dari tengkorak kepala, tulang wajah dan tulang panjang. Aktivitas proliferasi eritroid di ekstramedular, akan menyebabkan limfadenopati, hepatosplenomegali, dan pada beberapa kasus terjadi tumor extramedular. Tidak efektifnya eritropoesis yang berat pada anemia kronis dan hipoksia dapat menyebabkan peningkatan absorbsi besi pada saluran pencernaan. Penderita thalassemia homozigot atau pun thalassemia-β heterozygot akan meninggal pada usia 5 tahun karena anemia yang berat. Namun transfusi menyebabkan penumpukan besi yang progressif oleh karena ekskresi yang tidak baik. (Suryani, 2015)
F. DIAGNOSIS THALASEMIA
            Diagnosis thalassemia menurut Suryani, 2015:
1. Thalassemia-β minor (trait) Pada β-thalassemia trait kelainan terjadi oleh karena ketidakseimbangan sintesa rantai globin-β. Pada thalassemia-β minor (trait)\ tidak mengalami anemia yang berat, tapi pada pemeriksaan darah lengkap di jumpai mikrositer (MCV Pemeriksaan hemoglobin elektroforesis di jumpai peningkatan dari Hb A2 (>3,5%), namun pada thalassemia-α trait nilai HbA2 dapat normal atau menurun³⁰. Dalam membuat diagnosis thalassemia-β minor, harus mengesampingkan adanya penyakit kekurangan zat besi, yang dapat mengubah kenaikan kadar HbA2. HbF juga dapat terlihat, tergantung pada mutasi genetik yang mendasarinya. Manifestasi klinis thalassemia-β minor biasanya ringan, dan umumnya pasien memiliki kualitas hidup yang baik.
2. Thalassemia-β Intermedia Hampir 10% pasien thalassemia-β mengalami thalassemia-β intermedia (TI). Genetik dari kelompok ini mungkin memiliki homozigot talasemia-δβ atau homozygous atau heterozygous thalassemia β⁰ dan atau mutasi thalassemia-β⁺ . Pada TI mengalami anemia hemolitik yang sedang, dengan mempertahankan Hb >7 g/dl tanpa dukungan transfusi. Dalam penggunaan transfusi dibagi thalassemia-β intermedia dari thalassemia-β mayor. Ketika kebutuhan transfusi mencapai > 8 unit pertahun maka diklasifikasikan sebagai thalassemia-β mayor. Gejala klinis yang tampak pada TI biasanya terjadi pada umur 2-4 tahun. Gejalanya dapat berupa anemia, hiperbilirubinemia, dan hepatospleenomegali. Memiliki pertumbuhan yang lebih baik.
3. Thalasemia Mayor Thalassemia-β mayor selalu disebut anemia Cooley, anemia Mediterranean dan anemia Jaksch menunjukkan bentuk penyakit yang homozigot ataupun yang heterozigot ditandai dengan gejala anemia berat (1-7 g/dL), hemolisis dan inefektif eritropoesis yang berat. Manifestasi yang muncul pada masa anak-anak dapat terjadi anemia yang berat, ikterus, pertumbuhan terhambat, aktivitas menurun dan sering tidur. Hepatosplenomegaly dengan tanda awal dari wajah thalassemia biasanya ditemukan
    












BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
       Thalasemia merupakan penyakit anemia hemalitik dimana terjadi kerusakan sel darah meraha didalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menajdi pendek (kurang dari 100 hari). Penyakit thalassemia disebabkan oleh adanya kelainan/perubahan mutasi pada gen globin beta sehingga produksi rantai globin tersebut berkurang tau tidak ada. Didlam sum-sum tulang mutasi thalassemia menghambat pematangan sel darah merah sehingga eritropoiesis dan mengakibatkan anemia berat. Akibatnya prosuksi Hb berkurang dan sel darah merah mudah sekali rusak atau umurnya le=bih pendek dari sel darah normal.
B. SARAN
            Saya harap teman-teman dapat memahami isi dari makalah tersebut dengan baik.

















DAFTAR PUSTAKA
Dini, Mardiani, dkk. 2014.”Analisis faktor yang mempengaruhi kualitas hidup anak thalassemia beta mayor”. Jakarta :UI

Esti, Suryani, dkk.2015.”Identifikasi Anemia Thalasemia Betha Mayor berdasarkan morfologi sel darah merah”. Surakarta: Universita Sebelas Maret

Iskandar, Wahidiyat.2003.”Thalasemia Dan permasalahanya”. Jakarta: UI

Neli, Salsabila, dkk. 2019.”Nutrisi Pasien Thalasemia”.Lampung : Universitas Lampung

Nila, 2018. “Thalasemia”.Jakarta: Mentri Kesehatan RI

Linda, Rosita. 2007.”Surveilans penderita talasemia”.Yogyakarta: Universitas Islam Indosesia Yogyakarta

Suryani, 2015. “Identifikasi Anemia Thalasemia”. Yogyakarta: UGM

Yuki. 2009.”Klasifikasi Thalasemia”.Jakarta : UNJ



Tidak ada komentar:

Posting Komentar