NAMA
: ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA
NIM :
18 3145 353 108
KELAS
:2018/C
A.
TES SARING
1. Tes Darah Rutin
a.
Pra Analitik
1)
Persiapan Pasien : Tidak ada persiapan pasien
2)
Persiapan Sampel : Darah EDTA 10%
3) Prinsip :Impedance
berupa larutan elektrolit (diluent) yang telah dicampur dengan sel-sel darah
melalui aperture, hambatan antara kedua elektroda tersebut akan naik sesaat dan
terjadi perubahan tegangan yang sangat kecil sesuai dengan nilai tahanannya
4)
Alat :
Hematologi analyzer, Tabung reaksi, rak tabung.
5)
Bahan :
Darah EDTA 10%
6)
Metode :
Volumetric Impeddance
b.
Analitik
Prosedur Kerja:
1. Disisapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dihidupkan
UPS, ditekan main power yang terletak pada bagian belakang alat, sehingga lampu
indicator main power menyala.
3. Ditekan
tombol power yang terdapat pada bagian depan alat, alat akan secara otomatis melakukan
cleaning dan priming.
4. Ditunggu
sampai alat siap digunakan.
5. Dilakukan
pembacaan control
6. Dimasukkan
data pasien pada computer/display lalu dikirim data tersebut ke alat.
7. Dipastikan
darah tidak menggumpal pada tabung dan dimasukkan sampel pad arak tabung sesuai
data pasien yang telah diinput, kemudian tekan tombol star dan akan dilakukan
analisa oleh alat.
8. Hasil
akan dikeluarkan dalm bentuk print out.
c. Pasca Analitik
1.
Leukosit : 3200-10.000/mm3
2.
Trombosit : 170-380.103
3.
LED : Pria = <15mm/1 jam Wanita : <20mm/1 jam
B. TES DIAGNOSTIK
1.
Tes
Apusan Darah Tepi
A.
Pra Analitik
a. Persiapan pasien : tidak memerlukan persiapan khusus
b. Persiapan sampel: - Darah kapiler segar akan
memberikan morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus
- Darah EDTA (etilen diamin tetra asetat).
c.
Prinsip sediaan apus: dibuat apusan darah pada kaca objek.
Prinsip
pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam
akan bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula
sebaliknya. Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu
menggunakan dua zat warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B
(trimethylthionin)yang bersifat basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang
bersifat asam seperti yang dianjurkan oleh The International Council for
Standardization in Hematology, dan pewarnaan yang dianjurkan adalah
Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG).
Alat dan bahan Alat:
a.
Kaca Objek 25x75 mm
b.
Batang gelas
c.
Rak kaca objek
d.
Pipet Pasteur
Bahan/reagen
:
1. Metanol absolut dengan kadar air kurang dari 4%,
2. Zat warna Wright Zat warna Wright 1 gr Methanol
absolut 600 ml
3. Larutan dapar pH 6,4 Na2HPO4 2,56 g KH2PO4 6,63 g
Air suling 1 L
4. Zat warna Giemsa Zat warna giemsa 1g Methanol
absolut 10 ml
5. Zat warna May - Grunwald Methylene blue dalam
methanol 1% eosin dan 1 % methylene blue
B.
Analitik
Cara
Membuat Sediaan Apus
1. Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk
digunakan sebagai „kaca penghapus‟ sudut kaca objek yang dipatahkan, menurut
garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak mencapai
tepi kaca objek
2. Satu tetes kecil darah
diletakkan pada ± 2 –3 mm dari ujung kaca objek. Kaca penghapus diletakkan
dengan sudut 30 – 45 derajat terhadap kaca objek didepan tetes darah.
3. Kaca pengapus ditarik ke
belakang sehingga tetes darah, ditunggu sampai darah menyebar pada sudut
tersebut.
4. Dengan gerak yang mantap, kaca
penghapus didorong sehingga terbentuk apusan darah sepanjang 3 – 4 cm pada kaca
objek. Darah harus habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca
objek. Apusan darah tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini
dapat diatur dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan
menggeser.
5. Apusan darah dibiarkan mengering di udara.
Identitas pasien ditulis pada bagian tebal apusan dengan pensil kaca.
Nilai Rujukan:
- Ukuran (size): Diameter eritrosit
yang normal (normositik) adalah 6 – 8 µm atau kurang lebih sama dengan inti
limfosit kecil
- Bentuk (shape): Bentuknya bikonkaf bundar dimana
bagian tepi lebih merah daripada bagian sentralnya
- Warna (staining): Bagian sentral lebih pucat
disebut akromia sentral yang luasnya antara 1/3 -1/2 kali diameter eritrosit
- Benda-benda inklusi (structure intracel): -
Distribusi : merata
C.
Pasca Analitik
Bentuk
eritrosit hemolisis :
Morfologi
secara umum adalah polikromatofilik, makrosit, dan sel eritrosit berinti.
Bentuk morfologi khusus bervariasi tergantung etiologi kerusakan eritrosit:
Akantosit
pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia, Haemolytic Uremic Syndrome (HUS),
anemia hemolitik. Ekinosit pada
abetalipoproteinemia, sirosis, uremia HUS, Sel Target pada Hb C atau E,
penyakit hati, ikterus obstruktif, talasemia, pasca splenektomi.
Sel tetes Air Mata pada mielofibrosis,
talasemia, anemia hemolitik, mieloftisis.
2 2. Tes Hitung Retikulosit
A.
Pra Analitik
1.
Persiapan pasien
2.
Persiapan sampel
3. Prinsip : Darah dicampur dengan larutan,
Brilliant Crecyl Blue atau larutan New Methylene Blue, lalu dibuat sediaan. Dan
jumlah retikulositnya dihitung dibawah mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung
per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %
4.
Alat dan bahan
1.
Tabung reaksi kecil
2.
Kaca obyek dan kaca penggeser
3.
Pipet Pasteur
4.
Penangas air
5.
Mikroskop.
B.
Analitik
SEDIAAN
KERING
1. Kedalam tabung reaksi kecil teteskan 3 tetes
larutan Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue.
2. Tambahkan 3 tetes darah, campurkan baik-baik dan
biarkan pada suhu ruangan selama 15 menit agar pewarnaan sempurna. Cara yang
lain : Setelah ditambahakan 3 tetes darah, campurkan baik-baik, tabung ditutup
dengan parafilm dan diinkubasi pada 37 c selam 30-60 menit.
3. Setelah inkubasi, tabung
dihomogenkan lagi dan ambil 1 tetes untuk membuat sediaan apus. Keringkan di
udara dan diperiksa di bawah mikroskop.
4. Periksalah dengan perbesaran
obyektif 100 kali. Dicari daerah yang baik yaitu eritrosit tidak tumpang
tindih. Retikulosit tampak sebagai sel yang lebih besar dari eritrosit. Dan
mengandung filamen atau granula. Dengan BCB, eritrosit berwarna biru keunguan
dengan filamen atau granula berwarna ungu. Bila menggunakan NMB, retikulosit
berwarna biru dengan filamen atau granula berwarna biru tua.
5.
Hitunglah jumlah retikulosit per 1000 eritrosit dengan lensa emersi
6. Jumlah retikulosit dapat
dinyatakan persen / per mil terhadap jumlah eritrosit total atau dilaporkan
dalam jumlah mutlak.
C.
Pasca Analitik
Nilai
rujukan = 0,5 – 1,5%
Hitung
retikulosit meningkat pada : perdarahan akut, hemolisis, RP I 3% =
Hiperproliferasi
3 3. Tes
Fe Serum dan TIBC
A.
Pra Analitik
1)
Persiapan
pasien: pasien berhenti meminum obat oral Fe 12 jam sebelumnya.
2) Persiapan sampel: serum atau plasma heparin
3)
Prinsip:
a.
Fe
Serum: Ikatan antara ferri (Fe3+)
dan transferrin dilepaskan oleh guanidine dalam suasana pH ,8. Asam askorbat
akan 4mere4d4uksi io4n ferri (Fe3+) menjadi ferro (Fe+)
kemudian akan bereakdi dengan ferrozine membentuk komplek berwarna.
b. TIBC: TIBC dievaluasi setelah transferrin sampai junuh
oleh larutan besi dan kelebihan besi akan diabsorpsi oleh magnesium hydroxide
carbonate. Setelah dicentrifuge, konsentrasi besi dalam
supernatant diukur.
4)
Alat dan bahan
a.
Alat
1.
Tabung plastik
2.
Glassware
b.
Bahan
1.
Serum atau plasma heparin
2.
Iron free water
3.
Reagen 1, reagen 2 dan reagen 3 Fe serum
4.
Reagen 1 dan reagen 2 TIBC
5.
Standar
B.
Analitik
1.
Fe Serum
a.
Membuat
larutan kerja dengan cara melarutkan 1 sendok reagen 2 dalam 0 ml reagen 1.
Tunggu hingga tercampur dengan baik. Stabilkan selama minggu pad4a suhu 2-8 0C dan 3
hari pada suhu 20-25 0C.
b.
Masukan
blanko aquades 10 ul pada tabung pertama, pada tabung kedua dimasukan standar
150 ul dan pada tabung ketiga diisi sampel sebanyak 150 ul. Tambahkan
masing-masing tabung 500 ul reagen kerja. Tunggu selama 50 detik kemudian baca
OD pada panjang gelombang 560 nm (A1 dan A2).
c.
Masukan
reagen 3 sebanyak 25 ul pada tabung pertama, kedua dan ketiga dimana tabung
kedua dan ketiga sebagai A3 dan A4. Tunggu selama 325 detik kemudian baca OD
pada panjang gelombang 560 nm (A3 dan A4).
Penghitungan: A4-A24/A3-A1 x konsentrasi standar (n)
2.
TIBC
a.
Dimasukan
1 ml reagen R1 dan sampel 0,5 ml pada tabung 1. Inkubasi selama
5 menit.
b.
Ditambahkan
1 sendok takar reagen R2 pada.
c.
Inkubasi
selama 20 menit kemudian dicentrifuge 3000 rpm selama 10 menit.
d.
Diambil supernatant
e.
Diperiksa
supernatan seperti pada S1 dengan supernatant : regan=1:3.
C.
Pasca Analitik
Fe Serum: 0,5-1,68 mg/dl
50-168 ug/dl
8,95-430 umol/l
TIBC:
1.
Laki-laki dewasa: 2,6-3,9 mg/l
446,5-69,8
umol/l
260-390 ug/l
2.
Wanita dewasa: 2,1-3,44 mg/l
37,6-60,9
umol/l
210-340
ug/l
4 .. Tes
Coomb’s
A.
Pra Analitik
1. Persiapan pasien : Catat daftar
obat yang sedang dikonsumsi pasien. Obat yang dapat mempengaruhi tes ini adalah
: penisilin, sefalosporin, antihipertensi dan lain-lain
2. Persiapan sampel : hindari
sampel hemolisis, sampel darah dengan antikoagulan natrium sitrat 3,8%. Tes
sebaiknya dilakukan selambatnya 2 jam.
3. Prinsip : Penambahan
serum Coomb‟s (serum hewan yang mengandung antibodi spesifik terhadap globulin
manusia) pada eritrosit yang tersensitisasi / eritrosit yang terbungkus dengan
imunoglobulin atau komplemen akan menimbulkan suatu aglutinasi
4. Alat dan
bahan : Alat : Tabung reaksi Pipet tetes Sentrifus Inkubator Kaca obyek dan
kaca penggeser Bahan : Darah sitrat (1:9) Larutan NaCl fisiologis (0,9%) Reagen
Coomb‟s
B. Analitik
1.
Sebanyak 0,5 ml darah yang diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2. Lakukan pencucian eritrosit 4 kali berturut-turut
dengan setiap kali dilakukan sentrifus kemudia plasma dibuang
3. Buatlah suspensi eritrosit yang
tertinggal dalam tabung setelah sentrifus terakhir dengan menambah sekian
banyak NaCl fisiologis sampai suspensi eritrosit mempunyai nilai hematokrit 2%
4. Ke dalam tabung 75 x 10 mm, masukkan 1 tetes
suspensi tadi kemudian tambahkan dengan 2 tetes reagen Coomb‟s
5.
Campur kemudian inkubasikan pada suhu 37O C selama 30-50 menit
6. Kocok dengan hati-hati tabung tersebut lihat
adanya aglutinasi, konfirmasikan dengan menggunakan mikroskop
7.
Jika hasilnya negatif lakukan sentrifus kembali dengan 1000 rpm selama 1 menit
8.
Periksa kembali adanya aglutinasi seperti langkah 6
9.
Bandingkan hasil tes dengan kontrol positif dan kontrol negatif
Nilai
rujukan : Negatif
C.
Pasca Analitik
Terjadi aglutinasi membuktikan adanya antibodi yang
melapisi eritrosit. Tes Coomb‟s positif ditemukan pada : Penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir Anemia hemolitik autoimun karena obat obatan Reaksi
transfusi hemolitik
5 5 Tes
Elektroforesis Hemoglobin
A.
Pra Analitik
1.
Persiapan pasien: Tidak ada perkhusus yang diperlukan.
2.
Prinsip:
Diukur Hb yang tidak terdenaturasi dengan penambahan sodium hidroksida kemudian
4ditambahkan ammonium sulfat lalu diukur.
3.
Persiapan
sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
4.
Alat dan bahan
a.
Alat
1.
Spektrofotometer
2.
Stopwatch
3.
Pipet 1,5
4.
Kertas saring whatman
5.
Tabung 12x10 mm
6.
Vortex mixer
7.
Funnels
b.
Bahan
1.
Hemolisat
2.
Cyanide solution
3.
NaOH 1,2 N
4.
Ammonium sulfat jenuh
B. Analitik
1)
Masukkan
3,8 ml larutan sianida ditambah 2 ml hemolisat untuk membuat HiCN.
2) Dipindahkan
ke dalam 2 tabung dimana tabung pertama sebanyak 0,4 ml HiCN dengan 6,75 ml
aquadest kemudian dibaca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb total.
3) Pada
tabung kedua dimasukan HiCN se4banyak 2,8 ml. biarkan 10 menit pada suhu ruang.
4) Dimasukkan
2 ml NaOH kemudian dicampur dengan vortex selama -3 detik kemudian inkubasi
selama 2 menit.
5) Dimasukkan ml (NH2)2SO4
dicampur dengan vortex selama 10 detik kemudian biarkan selama 5 menit.
6) Disaring dengan kertas whatman kemudian
baca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb resisten alkali.
Perhitungan presentasi Hb F
A540 Hb total x 10,01
C.
Pasca Analitik
Nilai normal: 0,2-1,0%
6. Tes Evaluasi Sumsum Tulang
A.
Pra Analitik
1) Persiapan pasien: Diberitahukan kepada pasien
langkah-langkah yang akan dilakukan,
melakukan pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, faktor pembekuan darah
seperti prothrombin time, INR, APTT untuk memastikan tidak ada resiko
perdarahan data prosedur dilakukan.
2)
Persiapan
sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
3)
Prinsip:
Pereaksi asam-basa yang saling berikatan antara
cat dengan sel darah, sesuai dengan sifat pH dari setiap sel yang
terdapat pada sel-sel darah tersebut. Giemsa pada dasarnya merupakan gabungan
dari dua macam cat yaitu methylene blue dan eosin dimana methylene blue
bersifat basa akan berikatan dengan bagian sel yang bersifat asam dan
memberikan warna biru sedangkan eosin yag bersifat asam akan mewarnai bagian
sel yang bersifat basa
4) Alat
dan bahan
a.
Alat
1.
Objek glass
2.
Pipet tetes
3.
Cawan petri
4.
Rak tabung
5.
Mikroskop
b.
Bahan
1. Sampel
sumsum tulang
2. Tabung
darah
3. Metanol
4. Giemsa
B.
Analitik
1.
Pembuatan preparat spread (sebar)
a.
Siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
b.
Letakkan objek glass di cawan petri
dengan cara dimiringkan
c.
Teteskan 3-4 tetes sampel sumsum tulang
di atas objek glass tersebut
d.
Diambil bagian fragmen menggunakan ujung
objek glass yang baru
e.
Buat apusan di atas objek glass yang
lain
f.
Keringkan
kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
2.
Pembuatan preparat squash (tekan)
a.
Siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
b.
Letakkan objek glass di cawan petri
dengan cara dimiringkan
c.
Teteskan 3-4 tetes sampel summsum tulang
di atas objek glass tersebut
d.
Letakkan di atas objek glass baru
e. Ratakan dan tekan kemudian geser secara
datar sampai ujung objek glass dengan cepat
f.
Keringkan
kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
3. Pewarnaan
giemsa
a.
Genangi
sediaan dengan larutan kerja gie4msa selama 20-30 menit
b.
Sisa
cat dibuang kemudian cuci dengan air mengalir
c.
Keringkan dan periksa di bawah mikroskop
C.
Pasca Analitik
1.
Normoselluler : volume lemak
20% dari sel hemapoietik
2.
Hyposelluler : sel hemapoietik diganti oleh sel lemak
3.
Hyperselluler : hampir semua lemak diaganti oleh sel hemapoietik
7. Tes kadar asam folat/Vitamin B12 Plasma
A. Pra Analitik
1. Persiapan
pasien: Puasa (tidak diperbolehkan makan dan minum, kecuali air putih) selama
12 jam sebelum pengambilan darah. Beberaba obat tertentu mungkin perlu
dihindari atau dihentikan konsumsinya. Kecuali dokter tetap menganjurkan
mengonsumsi obat atau kondisi kondisi kesehatan tidak memungkinkan
(informasikan hal ini kepada tugas laboratorium)
2. Persiapan sampel : 8 jam pada
suhu 2-8oC (Direkomendasikan), 24 jam pada suhu 2-8 oC
(Tietz), whole-blood – Fresh.
3.
Prinsip Kerja: Menggunakan derivate dari luminol dengan peroksida dan H2O2
(atau sistem enzimatik lainnya yang menghasilkan H2O2 seperti oksidase glukosa
atau uricase) ditambah penambah (turunan dari fenol, seperti piodofenol), yang
meningkatkan emisi cahaya sampai 2.800 kali.
4.
Alat
a. Mikropipet
b. Sentrifuge
c. Mikroplate
Reader
5. Bahan
a. Serum/plasma
b. Tabung
EDTA
c. Larutan
Biotin Antibodi
6. Metode : Chemiluminescence
B. Analitik
1. Darah
yang telah diperoleh kemudian dimasukkan kedalam tabung yang menggunakan EDTA
2. Untuk
mendapatkan plasma, darah disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 1000xg
pada suhu 2-8oC dalam waktu 30 menit
3. Dipipet
plasma pada control sebanyak 50μL, dipiper kedalam microplate. Segera tambahkan
well microplate masing-masing dengan 50μL larutan biotin antibody
4. Inkubasi
selama 45 menit pada suhu 37 oC kemudian homogenkan hingga terlihat
seragam
5. Setiap
well di cuci 3 kali dalam wadah buffer sebanyak 350 μL, lalu buang cairan dalam
well, masing-masing well ditentukan segera dengan menggunakan microplate reader
set pada panjang gelombang 450nm.
C. Pasca Analitik
a. Nilai rujukan : 300-400mcg/hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar