Kamis, 26 Maret 2020

Hematologi III Anemia megaloblastik

MAKALAH HEMATOLOGI III
“ANEMIA MEGALOBLASTIK”







DISUSUN OLEH 
       NAMA : ENCENG JULDATI                         NURSITA NUNDA
NIM.    : 18 3145 353 108
KELAS : 2018 C



PROGRAM STUDY DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY 
MAKASSAR
2020

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum WarrahmatullahiWabarakatuh
     Puji syukur yang dalam kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Hematologi III tentang “Anemia Megaloblastik” ini dengan lancar dan tepat waktu. 
  Kami menyadari sepenuhnya akan kemampuan yang masih terbatas, sehingga masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini dan hasilnya belum dapat dikatakan sempurna. Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran yang sifatnya membangun kami nantikan dalam rangka kesempurnaan makalah ini. Dan dengan ini kami berharap makalah ini dapat memberikan dampak baik bagi para pembaca semua.
Wassalamualaikum Warrahmatulahi Wabarakatu

Makassar, 22 Maret 2020
Penulis


Enceng Juldati N.N


        







DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULAN
        A. Latar Belakang
        B. Tujuan Umum
        C. Tujuan Khusus
BAB II PEMBAHASAN
       A.  Anemia Megaloblastik Secara Umum
       B.  KlasifikasiAnemia Megaloblastik
       C.  Etiologi Anemia Megaloblastik
       D. Patofisiologi Tanda Dan Gejala Anemia  Megaloblastik
       E. Penatalaksanaan Atau Penanganan Anemia Megaloblastik
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 
       A.  Kesimpulan
       B.  Saran
DAFTAR PUSTAKA













BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
     Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin atau hematokrit di bawah normal. Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal yaitu bila Hb < 14 g/dL dan Ht < 41%, pada pria atau Hb < 12 g/dL dan Ht < 37% pada wanita. Klasifikasi anemia dibagi menjadi 5 yaitu Anemia mikrositik hipokrom (anemia defisiensi besi, anemia penyakit kronis), Anemia makrositik (defisiensi vitamin B12, defisiensi asam folat), Anemia karena perdarahan, Anemia hemolitik, Anemia aplastik (Susanto, 2007).
      Anemia adalah kondisi dimana massa sel darah merah dan massa hemoglobin yang beredar menurun sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik dalam menyediakan oksigen dalam jaringan tubuh. Secara laboratorik dijabarkan sebagai penurunan dibawah normal kadar hemoglobin, hitung eritrosit dan hematokrit. Namun dalam aplikasi klinisnya turunnya kadar hemoglobin dalam darah yang digunakan dalam  mendeteksi anemia. Anemia  bisa  diakibatkan  oleh kehilangan  darah,  penurunan  produksi sel darah merah, peningkatan destruksi sel darah merah, atau kombinasi ketiga penyebab  ini. Proses  ini  bisa  terjadi karena defisiensi nutrisi. Salah  satu  jenis anemia  yang banyak  di temukan  dalam  masyarakat adalah anemia  megaloblastik. Anemia megaloblastik paling banyak disebabkan  oleh  kekurangan  vitamin B12 dan folat. Salah satu penyebab anemia megaloblastik adalah tropical sprue yang merupakan penyakit malabsorbsi  yang endemik (Made, 2010)
B.  TUJUAN UMUM
     Mahasiswa mampu memahami secara umum tentang anemia megaloblatik.
C. TUJUAN KHUSUS
1. Memahami hal-hal yang berkaitan dengan definisi anemia megaloblastik.
2. Memahami hal-hal yang berkaitan dengan klasifikasi anemia megaloblastik.
3. Memahami hal-hal yang berkaitan dengan etiologi anemia megaloblastik.
4. Memahami hal-hal yang berkaitan dengan patofisiologi tanda dan gejala anemia megaloblastik.
5. Memahami hal-hal yang berkaitan  dengan penatalaksanaannya atau penanganan anemia megaloblastik.
























BAB II
PEMBAHASAN
A.  ANEMIA MEGALOBLASTIK SECARA  UMUM
    Anemia adalah kekurangan gizi dimana gizi tersebut berperan dalam pembentukan hemoglobin, baik karena kekurangan konsumsi atau karena gangguan absorbsi. Zat gizi yang bersangkutan adalah besi, protein, vitamin B6, yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis hemoglobin. .(Made, 2010).
    Anemia megaloblastik adalah kumpulan penyakit heterogen yang memiliki  karakteristik  yang sama yaitu adanya sel megaloblast. Anemia megaloblastik paling banyak disebabkan oleh defiensi folat dan vitamin  B12. Efek  yang  disebabkan karena  defisiensi  folat  dan  dan  vitamin B12 adalah  penurunan  sintesis DNA. Vitamin   B12 diperlukan untuk melepaskan folat  dari  bentuk methyl sehingga  bisa kembali menuju tetrahydrofolate  pool untuk  dikonversi menjadi 5, 10-methylene tetrahydrofolate.  Gangguan sintesis DNA disebabkan karena adanya konversi deoksiridilat menjadi thimidilat  yang  tidak  adekuat  karena kekurangan 5, 10-methylene tetrahydrofolate. Representasi dari    penurunan sintesis DNA ini adalah terdapatnya sel megaloblast  yang menjadi karakteristik anemia  megaloblastik. Sel  megaloblast adalah  sel prekursor  eritrosit  dengan ukuran  sel  yang  besar, lacy chromatin. pola para kromatin menonjol dan adanya kesenjangan pematangan inti dan sitoplasma.(Made, 2010).
  Anemia megaloblastik adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya perubahan abnormal dalam pembentukan sel darah, sebagai akibat adanya ketidaksesuaian antara pematangan inti dan sitoplasma pada seluruh sel seri myeloid dan eritorid. Anemia megaloblastik merupakan manifestasi yang paling khas untuk defisiensi folat. Mekanisme biokimiawi yang mendasari terjadinya perubahan megaloblastik adalah terganggunya konversi dump menjadi dTMP. Dalam keadaan normal dump dikonversi menjadi dTMP dengan adanya enzim timidilat sintetase yang membutuhkan koenzim folat. (Helena, 2010)
B  KLASIFIKASI ANEMIA MEGALOBLASTIK
Klasifikasi anemia megaloblastik yaitu:
1. Defisiensi kobalamin Asupan tidak.          cukup:vegetarian, dan malabsorbsi
2. Defisiensi Asam folat 
a. Asupan yang tidak cukup :sering pada alkoholik
b. Keperluan meningkat : kehamilan, keganasan, dan anemia hemolitik kronik
c. Malasorbsi: sprue tropical dan atopikal, obat
d. Metabolisme yang terganggu
3. Sebab-sebab lain
a. Obat-obatan yang mengganggu metabolisme DNA
b. Gangguan metabolic
c. Idiopatik
  Menurut Masrizal pada tahun 2014, klasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin yang dikandungnya. 
1. Makrositik Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik yaitu :
a. Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12, asam folat dan gangguan sintesis DNA.
b. Anemia Non Megaloblastik adalah eritropolesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran.
C ETIOLOGI ANEMIA MEGALOBLASTIK
   Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan Vitamin B12 umumnya berhubungan dengan beberapa kondisi di bawah ini: 
   Anemia pernisiosa (pernicious anaemia), salah satu penyakit autoimun yang mempengaruhi perut. Sel kekebalan (imun) tubuh menyerang sel parietal di lambung yang bertugas untuk memproduksi faktor intrinsik. Kekurangan faktor intrinsik ini menyebabkan tubuh tidak dapat menyerap vitamin B12. Peningkatan penggunaan vitamin B12 karena infeksi parasit (Diphyllobothrium latum) dan bakteri patogen. Sindrom malabsorpsi seperti penyakit seliaka (coeliac disease) dan kanker lambung. Kekurangan konsumsi vitamin B12, terutama pada orang-orang yang hanya mengkonsumsi sayuran (vegetarian). Hal ini disebabkan karena sumber utama vitamin B12 terdapat pada makanan yang berasal dari hewan seperti daging, susu, dan telur.
2. Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan asam folat umumnya berhubungan dengan beberapa kondisi di bawah ini:
Peningkatan kebutuhan asam folat seperti pada wanita hamil dan penderita beberapa jenis leukemia (kanker darah) akut
b. Obat-obatan yang bekerja sebagai antagonis (menghambat) asam folat, misalnya pada perawatan penderita kanker.
c. Penyerapan asam folat yang abnormal seperti pada penderita penyakit seliaka (coeliac disease) (Howard, 2014). 
  Menurut Helena pada tahun 2010 Penyebab defisiensi asam folat,  adalah sebagai berikut : 
- Diet yang inadekuat: bayi dan anak-anak, orang tua, pemanasan, kemiskinan.
- Malabsorpsi: tropical sprue, blind loop syndrome, steatorrhea, malabsorpsi folat  kongenital, reseksi jejunum, Crohn’s disease.
- Peningkatan kebutuhan: kehamilan, laktasi prematuritas, anemia hemolitik, keganasan, inflamasi kronik, hipertiroidisme. 
- Obat-obatan: fenitoin, primidon, fenobarbital, kontrasepsi oral, methotrexate.
- Defisiensi enzim bawaan: dihidrofolat reduktase, 5-metil THF transferase. - Lain-lain: alkoholisme, penyakit hati.
Penyebab utama yang dipikirkan adalah meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdaraan atau oleh penghancuran sel. perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat perdarahan kronik karena polid pada kolon, penyakit-penyakit keganasan, hemoriod atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolysis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek. Anemia megaloblastik defisiensi asam folat disebabkan karena defisiensi asam folat. Defisiensi asam folat itu sendiri dapat disebabkan karena banyak faktor. Asupan yang tidak adekuat karena diet yang tidak seimbang (sering pada peminum alkohol, usia belasan tahun, beberapa bayi). Para peminum alkohol akan dapat mengalami defisiensi asam folat karena sumber utama asupan kalori yang dikonsumsi berasal dari minuman beralkohol. Alkohol dapat menganggu metabolisme folat. Pecandu narkotik juga mudah menjadi defisiensi folat karena malnutrisi. Banyak individu fakir miskin dan usia lanjut yang mendapat makanan yang kurang , akan menderita defisiensi asam folat
D PATOFISIOLOGI TANDA DAN GEJALA ANEMIA MEGALOBLASTIK
    Beberapa bentuk anemia dapat terjadi akibat gangguan absobsi atau metabolisme folat atau kobalamin (Vit. B12).  akibatnya, sintesi DNA akan dihambat dan siklus sel jadi diperlambat selama eritropoesis. Namun, sintesis hemoglobin di sitoplasma berlangsung terus dan tidak mengalami perubahan sehingga ukuran eritroblast membesar (megaloblast) serta menjadi terlalu besar dan eritrosit yang oval akan masuk ke dalam darah (megalosit: MCV> 100 fl). Pembentukan granulosit dan megakariosit juga terganggu.Di samping penundaan proloferasi, anemia juga dicetuskan oleh kerusakan dini megaloblast di sumsum tulang (peningkatan eritropoesis yang tidak efisien) dan juga karena pemendekan masa hidup megalosit yang masuk dalam darah (Isselbacher, 2015).
     Defisiensi vit B12 dan asam folat diyakini akan menghambat sintesis DNA untuk replikasi sel termasuk SDM sehingga bentuk, jumlah dan fungsinya tidak sempurna. Faktor intrinsic berasal dari sel-sel lambung yang dipengaruhi oleh pencernaan protein (glukoprotein), faktor ini akan mengalir ke ileum untuk membantu mengabsorpsi Vit B12. Vit B12 juga berperan dalma pembentukan myelin pada sel saraf sehingga terjadinya defisiensi akan menimbulkan gangguan neurologi (Kowalak, 2017).
    Timbulnya megaloblast adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena terjadi gangguan sintesis DNA sel-sel eritroblast akibat defisiensi asam folat dan vitamin B12, dimana vitamin B12 dan asam folat berfungsi dalam pembentukan DNA inti sel dan secara khusus untuk vitamin B12 penting dalam pembentukan myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada inti eritroblast ini, maka maturasi inti lebih lambat, sehingga kromatin lebih longgar dan sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat. Sel eritroblast dengan ukuran yang lebih besar serta susunan kromatin yang lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast. Sel megaloblast ini fungsinya tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang sehingga terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang berujung pada terjadinya anemia (Wiwik dan Andi, 2008).
    Asupan vitamin B12 sangat berhubungan dengan nilai MCV dalam darah, di dalam darah manusia terkandung sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit) dan trombosit serta plasma, sebagai komponen utamanya. Bentuk sel darah merah adalah gepeng (piringan) yang mengandung molekul yang disebut hemoglobin (Hb). Hemoglobin inilah yang memberikan warna merah pada eritrosit dan membantu membawa oksigen dari paru-paru ke sel-sel tubuh dan pada tempat yang dibutuhkan. Agar sel darah merah bekerja efekf, maka sel darah merah tersebut harus memiliki volume atau ukuran yang tepat. (Muhammad, 2018).
   Penyebab dari anemia megaloblask adalah akibat tidak terproduksinya faktor intrinsik oleh tubuh sehingga vitamin B12 dak terserap. Keadaan defisiensi menyebabkan sumsum tulang dak mampu memproduksi sel eritrosit secara normal, hal ini mengakibatkan daya pengangkutan hemoglobin menjadi sangat terbatas (Mediscus, 2018).
    Semakin banyaknya asupan vitamin B12 maka akan semakin pula tinggi kadar hemoglobin, begitupun sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh karena minimnya konsumsi makanan bersumber vitamin B12 yang baik seperti, daging, udang, dan kerang serta konsumsi makanan yang memiliki daya absorpsi besi rendah sehingga asupan zat besi dalam tubuh sangat sedikit. Anemia tidak hanya di sebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang Walaupun asupan zat gizi cukup namun dalam proses produksinya terjadi gangguan pada sel darah merah dikarenakan dak berfungsinya proses pencernaan dengan baik atau adanya kelainan lambung yang mengakibatkan zat-zat gizi penng dak dapat di serap dan terbuang bersama kotoran, maka keadaan ini lama kelamaan akan membuat tubuh mengalami anemia (Muhammad, 2018).
E  PENATALAKSANAN ATAU PENANGANAN ANEMIA MEGALOBLASTIK
   Penggunaan terapi asam folat dalam klinik terbatas pada pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin. Penggunaan asam folat secara efektif tergantung pada keakuratan diagnosis dan pemahaman mengenai mekanisme terjadinya penyakit. Prinsip-prinsip umum yang perlu diperhatikan, pemberian asam folat profilaksis harus dengan indikasi yang jelas, pada setiap pasien dengan defisiensi asam folat, harus dicari penyebabnya dengan teliti, sebaiknya merupakan terapi yang spesifik, dan folat tidak dapat memperbaiki kelainan neurologis, yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 Folat tersedia sebagai asam folat dalam bentuk tablet 0,1, 0,4, 10, 20 dan dalam bentuk injeksi asam folat 5 mg/cc. Selain itu terdapat pula dalam berbagai sediaan multivitamin dan mineral.9,22 Pengobatan pasien dengan anemia megaloblastik akut berupa asam folat 1-5 mg intra muskular dan dilanjutkan dengan maintenance 1-2 mg/hari oral selama 1-2 minggu. Pemberian asam folat secara oral dengan dosis 0,5-1 mg sehari pada pasien anemia megaloblastik umumnya memuaskan.9 Terapi profilaktiks pada bayi prematur 50 mg/hari.33 Terapi selama 4 bulan biasanya cukup untuk memperbaiki gejala klinis dan untuk mengganti sel darah;16,33 Namun bila penyebab defisiensi belum dapat diatasi, perlu terapi yang lebih lama.17,23 Rekomendasi dari US Public Health Service (USPHS), semua wanita usia subur harus mengkonsumsi 400mg (0,4 mg) asam folat/ hari untuk mencegah NTD. Pemberian sejak 1 bulan konsepsi sampai kehamilan trimester pertama dapat mencegah NTD 50% atau lebih (Helena, 2010).
  Menurut Kadir, pada tahun 2007 penanganan Anemia megaloblastik yaitu:
1. Menambahkan asupan vitamin B-12
Dalam kasus anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B-12, Anda mungkin perlu suntikan vitamin B-12 setiap bulannya. Berdasarkan pertimbangan dokter dan juga kondisi anemia Anda, suntikan dapat diberikan sampai setahun penuh. Selain itu, suplemen vitamin b12 juga dapat diberikan dan dosisnya harus diresepkan oleh dokter.Anda juga bisa mengatasi anemia ini dengan lebih banyak makanan dengan vitamin B-12 ke dalam diet Anda. Makanan yang mengandung vitamin B-12 di dalamnya termasuk: Telur, ayam, sereal yang diperkaya vitamin B12, daging merah (terutama daging sapi), susu, dan kerang.
2. Menambahkan asupan folat
Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kurangnya folat dapat diobati dengan rajin mengonsumsi suplemen asam folat oral atau harus diinfus cairan folat. Asupan makanan yang diubah dengan lebih banyak meningkatkan kadar folat juga dapat membantu mencegah anemia bertambah buruk. Berikut adalah beberapa makanan yang baik dikonsumsi untuk mengatasi anemia megaloblastik karena kekurangan folat: Buah jeruk, sayuran berdaun hijau gelap, kacang-kacangan, biji-bijian yang diperkaya sama dengan defisiensi vitamin B12.










BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  KESIMPULAN
      Anemia adalah berkurangnya jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume (hematokrit) hingga dibawah nilai normal per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik, dan korfirmasi laboratorium. Anemia megaloblastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megaloblastik Anemia megaloblastik (Sel darah merah besar) diklasifikasikan secara morfologis sebagai anemia makrositik normokromik. Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi a yang mengakibatkan gangguan sintesis DNA, disertai kegagalan maturasi dan pembelahan inti
B. SARAN
   Dari pemaparan di atas, kami memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan bahwa penting sekali memahami anemia megaloblastik secara tepat agar terhindar dari kesalahan dalam tindakan baik di rumah sakit maupun di lingkungan sekitar yang berhubungan dengan anemia itu sendiri.











DAFTAR PUSTAKA
Braunwald, Isselbacher. 2015. ”Harrison: Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam”. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Handayani, wiwik dan Haribowo, andi sulystio.2008.”buku ajar asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem hematologi”. Jakarta:Salemba Medika

Helena. 2010.”Anemia Megaloblastik”.Bandung :Academia

Kadir Laksmyn. 2007.”Penyebab Anemia Defisiensi pada ibu hamil”.Gorontalo:UNG

kowalak. 2017.”Buku ajar patofisologi”.Jakarta:EGC

Made. 2010.”Waspada anemia megaloblastik”. Tanggerang: Artikel

Masrizal. 2014.”Anemia defisiensi besi”.Padang; Universitas Andalas

Nugroho, Muhammad ridho dan ratu ayu dewi sartika.2018.”asupan vitamin B12 terhadap anemia megaloblastik pada vegetarian di vihara meitriya khirti Palembang”.Palembang; Kesehatan masyarakat UI

Susanto, 2014. “Anemia”.Semarang: Poltekkes Kemenkes Makassar

Suryani, Howard.2017.”Analisis pola makanan dan anemia gizi besi pada remaja”.Bengkulu:Andalas