Jumat, 11 Desember 2020

PEMERIKSAAN SITOPATOLOGI DAN HISTOPATOLOGI

 

NAMA            : ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA

NIM                : 18 3145 353 108

KELAS           : 2018/C

 

PEMERIKSAAN SITOPATOLOGI

DAN HISTOPATOLOGI

 

Sitologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sel yang berasal dari tubuh manusia baik yang terlepas sendiri (exfoliated) dari permukaan epitel atau yang diambil dari berbagai tempat dengan cara tertentu. Berperan untuk menentukan perubahan struktur sel dikenal dengan istilah sitologi diagnostik. Bahan-bahan yang dapat diperiksa Sitologi : Urine, dahak, cairan lambung, cairan pleura, ascites, cairan sendi, cairan cerebrospinal, mukosa alat kelamin wanita, aspirasi jaringan tumor.

Patologi anatomi adalah cabang kedokteran yang mempelajari efek penyakit pada struktur organ tubuh, baik secara keseluruhan (secara kasar) maupun secara mikroskopis. Peran utama patologi anatomi adalah untuk mengidentifikasi kelainan yang terdapat dalam tubuh yang dapat membantu mendiagnosis penyakit dan menentukan pengobatan. Meskipun patologi anatomi paling sering digunakan untuk membantu mengidentifikasi dan memantau berbagai jenis tumor atau kanker, tetapi pemeriksaan ini juga berguna dalam mengevaluasi kondisi lain, seperti penyakit ginjal dan hati, gangguan autoimun, dan infeksi. Bahkan di sebagian besar rumah sakit, semua jaringan yang diangkat selama operasi harus diperiksa oleh ahli patologi.

       Ada dua subdivisi utama dalam patologi anatomi, yaitu histopatologi dan sitopatologi (sitologi):

Histopatologi

Histopatologi adalah prosedur yang melibatkan pemeriksaan jaringan utuh yang diambil melalui biopsi atau operasi di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini sering dibantu oleh penggunaan teknik pewarnaan khusus dan tes terkait lainnya, misalnya penggunaan antibodi untuk mengidentifikasi berbagai komponen jaringan pada tubuh.

Sitopatologi

Sitopatologi adalah pemeriksaan sel tunggal atau kelompok sel kecil dari cairan atau jaringan di bawah mikroskop. Sederhananya, prosedur ini dilakukan dengan mengoleskan cairan sampel atau jaringan dari pengidap pada slide yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jumlah sel, jenisnya, dan bagaimana rinciannya. Sitopatologi umumnya digunakan sebagai alat skrining untuk mencari penyakit dan memutuskan apakah perlu dilakukan tes lanjutan. Contoh umum dari sitopatologi adalah pap smear, sputum, dan gastric washing.

Secara garis besar ada 2 macam pemeriksaan dasar yang dilakukan yaitu pemeriksaan histopatologi dan sitology:

Pemeriksaan histopatologi adalah pemeriksaan dari jaringan tubuh manusia, di mana jaringan itu dilakukan pemeriksaan dan pemotongan makroskopis, diproses sampai siap menjadi slide atau preparat yang kemudian dilakukaan pembacaan secara mikroskopis untuk penentuan diagnosis.

Pemeriksaan sitologi adalah pemeriksaan dari cairan tubuh manusia yang kemudian diproses, yaitu dilakukan fiksasi dan pemberian pigmen kemudian dilakukan pembacaan dengan mikroskop. Perbedaan utama antara pemeriksaan histopatologi dan sitologi adalah di mana pada pemeriksaan histopatolologi akan tampak struktur jaringan, sedangkan pada pemeriksaan sitologi hanya tampak gambaran sel-sel nya tanpa terlihat struktur jaringannya.

     Patologi anatomi sering dilakukan untuk membantu mengidentifikasi beberapa penyakit berikut:

1. Kanker

Patologi anatomi bisa digunakan untuk mendiagnosis apakah terdapat sel kanker pada tubuh seseorang. Melalui prosedur biopsi, sampel jaringan yang diduga terkena kanker akan diambil dan diperiksa di bawah mikroskop. Dokter akan melihat apakah sel-sel pada organ tersebut masih normal atau sudah berubah menjadi sel kanker. Hampir semua jenis kanker bisa diidentifikasi melalui patologi anatomi, antara lain kanker payudara, kanker serviks, kanker usus, dan kanker hati.

2. Tumor

Tumor adalah pertumbuhan sel-sel yang abnormal dalam tubuh. Sel-sel yang “berbeda” ini bisa dideteksi dengan melakukan patologi anatomi. Melalui prosedur biopsi juga, dokter dapat mengambil sampel tumor dan memeriksanya untuk memastikan ganas atau tidaknya tumor tersebut.

3. Penyakit Ginjal dan Hati

Berbagai penyakit ginjal, seperti batu ginjal dan gagal ginjal kronis, serta penyakit hati, misalnya hepatitis A, B, dan C bisa didiagnosis dengan pemeriksaan jaringan melalui patologi anatomi.

4. Gangguan Autoimun

Lupus, multiple sclerosis, penyakit Graves, dan psoriasis adalah contoh-contoh gangguan autoimun yang bisa diidentifikasi dengan patologi anatomi.

5. Infeksi

Berbagai macam infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, maupun jamur pun bisa diidentifikasi dengan menjalani patologi anatomi.

Didalam pelayanan pemeriksaan laboratorium Patologi Anatomi, pemeriksaan sitologi dibagi dalam 2 bagian yaitu :

1)  Pemeriksaan sitologi exfoliatif misalnya PAP Smear adalah pemeriksaan sitologi dari apusan cervix uteri .

Pemeriksaan PAP Smear merupakan salah satu pemeriksaan preventif yang berperan untuk deteksi dini kanker Rahim selain itu pula dapat menjadi follow up pasca pengobatan. Pap smear berbeda dengan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Pada Pap smear adalah pemeriksaan yang berfungsi mendeteksi perubahan sel-sel leher Rahim (ecto dan endocervix atau bagian luar dan dalam cervix) sedangkan pada IVA adalah pemeriksaan leher Rahim dengan cara melihat langsung dengan mata telanjang permukaan  leher Rahim (cervix) setelah memulas dengan larutan asam acetat 3-5%.

2)  Sitologi aspiratif atau FNAB (Fine needle aspirasi biopsi) adalah tindakan medik untuk mengambil sel dari suatu kelainan organ dengan needle ukuran 22-25 Gauge. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan adanya tumor atau keradangan.

Pemeriksaan FNAB dapat dilakukan di unit rawat jalan setiap rumah sakit maupun praktek. Walaupun akurasi hasil pemeriksaan FNAB masih di bawah pemeriksaan histopatologi dari biopsi terbuka, tetapi dengan panduan data dari pemeriksaan klinis, radiologi dan laboratorium diharapkan hasil pemeriksaan yang cukup baik dengan biaya yang relatif lebih murah.

Alat yang diperlukan untuk FNAB Peralatan dasar yang diperlukan untuk melakukan FNAB sederhana terdiri dari :

· Sebuah syringe holder atau syring pistol / Terumo syring : 3 cc, 5 cc, 10 cc

· Jarum / Needle disposible ukuran 21- 25 G

· Kaca objek untuk pembuatan preparat apus dari aspirat jaringan dan telah diberi nomor / kode sitologi

· Kapas alkohol

· Botol / kotak kaca berisi alkohol 95 % ( untuk fiksasi )

· Sarung tangan steril

· Botol penampung cairan aspirat

· Plester

· Ethyl chloride spray

· Tissue Pembuatan sediaan apus hasil FNAB Untuk pembuatan preparat apus, digunakan kaca objek yang bersih yang sudah diberi label nomor /kode sitologi sesuai dengan nomor yang ada di formulir permintaan FNAB.

Prosedur pembuatan apusan hasil aspirasi adalah sebagai berikut :

· Setiap kaca objek yang sudah di beri nomor di tetesi dengan 1-2 tetes aspirat

· Aspirat diapuskan dengan merata pada kaca objek dengan menggunakan kaca objek yang lainnya.

· Sediaan apus tersebut segera difiksasi dalam alkohol 95 % untuk pewarnaan Papanicolaou, sedangkan untuk pewarnaan Giemsa difiksasi dalam metanol setelah dikeringkan terlebih dahulu.

      

Teknik Pewarnaan

Pewarnaan pada sediaan apus/smear untuk pemeriksaan sitologi bertujuan untuk identifikasi morfologi sel, inti sel maupun sitoplasma sel, sehingga bisa memberikan gambaran menyeluruh kondisi morfologi sel yang diperiksa. Teknik pewarnaan untuk standar pemeriksaan sitologi, yaitu :

1. Pewarnaan Papanicolaou Terdapat lima langkah utama dalam metode pewarnaan Papanicolaou, yaitu :

a. Fiksasi

b. Pewarnaan Inti

c. Pewarnaan sitoplasma

d. Penjernihan ( Clearing )

e. Mounting

2. Pewarnaan Giemsa. Langkah-langkah dalam pewarnaan Giemsa :

a. Fiksasi

b. Pewarnaan dengan larutan Giemsa

c. Mounting           

Prosedur pewarnaan Papanicolaou:

1. Sediaan apusan difiksasi dengan alkohol 95 % 15 menit (minimal)

2. Alkohol 80 % 10 celup

3. Alkohol 70 % 10 celup

4. Alkohol 50 % 10 celup

5. Aquadest 10 celup

6. Harris Haematoxylin 3-5 menit

7. Cuci dengan air mengalir

8. HCL 0,25 % 3-4 celup

9. Cuci dengan air mengair

10. Lithium 0,5 % 10 celup

11. Cuci dengan air mengalir

12. Alkohol 50 % 10 celup

13. Alkohol 70 % 10 celup

14. Alkohol 80 % 10 celup 5

15. Alkohol 95 % 10 celup

16. OG 6 3-5 menit

17. Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup.

18. EA 50 3-5 menit

19. Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup, Keringkan di udara.

20. Xylol 3 menit

21.Tutup dengan Entelan

Keutungan yang diperoleh dari metode pewarnaan Papanicolaou ini menurut Mukawi ( 1989) adalah :

1. Mewarnai inti sel dengan jelas, sehingga dapat dipergunakn untuk melihat inti apabila terdapat kemungkinan keganasan.

2. Menggunakan pewarna banding yang berbeda dengan pewarna utama untuk mewarnai sitoplasma , sehingga warna inti tampak lebih kontras.

3. Warna yang cerah dari sitoplasma memungkinkan dapat dilihatnya sel-sel lain di bagian bawah yang saling bertumpuk.

Prosedur pewarnaan Giemsa

1. Sediaan apus setelah benar-benar kering fiksasi dengan metanol selama 5 menit, angkat dan biarkan kering di udara.

2. Masukkan ke dalam larutan Giemsa yang telah diencerkan selama 30 menit, angkat, cuci dengan air mengalir, keringkan di udara.

3. Masukkan ke dalam Xylol selama 3 menit.

4. Tambahkan 1-2 tetes entelan

5. Tutup dengan cover gelas

6. Bersihkan sisa entelan yang melekat pada kaca objek sehingga siap di beri label.

          Laboratorium patologi anatomi kadang melakukan pengambilan spesimen baik spesimen ginekolog (pap smear) maupun non ginekolog (FNAC). Adapun hal-hal yang harus minimal harus diisikan oleh seorang pasien secara umum adalah namapasien, no rekam medis, no pendaftaran, usia pasien, jenis kelamin pasien, dokter pengirim. Sedangkan untuk jenis pemeriksaan baik ginekolog maupun non-ginekolog adalah sebagai berikut.

1. Pemeriksaan Pasien Ginekolog

a. Persiapan pasien

· Pemeriksaan dilakukan idealnya 2 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir. Sebaiknya hindari pemeriksaan selama menstruasi karena darah dapat mengaburkan temuan. Jika terjadi pengaburan temuan (temuan tidak jelas) karena sesuatu, tetap harus dituliskan/dicatat agar teknisi mengetahui cara memperlakukan spesimen.

 · Jangan menggunakan obat vagina, alat kontrasepsi vagina, atau “douching” (pencucian vagina menggunakan alat khusus) selama 48 jam sebelum pengambilan spesimen.

 · Tidak dianjurkan berhubungan badan sehari sebelum pengambilan spesimen.

b. Sumber spesimen Sumber atau letak pengambilan spesimen (vagina, endoservik, gabungan atau bagian servik) menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini berkaitan dengan sel minimal yang ditemukan untuk menilai kelayakan suatu sediaan.

c. Status homonal Status hormonal yang dimaksud di sini adalah seorang administrasi wajib menanyakan status pasien, apakah dalam masa subur, menstruasi, atau menopause.

2. Pasien pemeriksaan non-ginekolog Pada pemeriksaan non ginekolog hal yang harus didapat dalam adminitrasi tidak sebanyak dari yang pemeriksaan ginekolog. Namun hal yang menjadi penting dalam pemeriksaan akhir baik penentuan patologis ataupun kemungkinan artifak yang muncul dalam sediaan. Adapun data yang harus didapatkan adalah sumber sediaan, waktu pengambilan, teknik pengambilan dan fiksasi tambahan.

3. Spesimen berupa bentuk sediaan siap warna Jika spesimen dikirimkan ke laboratorium dalam bentuk sediaan, maka hal-hal yang harus diperhatikan seorang adminitrasi adalah jenis fiksasi yang digunakan (fiksasi basah atau kering), waktu pengambilan spesimen dan formulir dasar (poin 1). Kesalahan yang sering terjadi pada saat pengiriman dalam bentuk sediaan siap warna adalah sediaan tersebut gagal dalam fiksasi kering maupun basah, debu dan kotoran menempel pada sediaan. Hal tersebut dapat menyebabkan nilai negatif palsu dari hasil pemeriksaan.

       


     Sediaan siap warna (Ariak debu pada sediaan sitologik).

      Sitopatologi eksfoliatif adalah cabang ilmu patologi yang mempelajari morfologi sel terdeskuamasi baik yang normal maupun yang berubah karena proses patologis. Secara fisiologis, sel-sel terutama yang berasal dari jaringan labil terus menerus terdeskuamasi karena jaringan tubuh terus mengalami pembaruan. Tingkat deskuamasi yang terjadi tergantung pada jenis dan lokasi jaringan, fungsi, kapasitas metabolismenya, dan keadaan patologis. Karena sifat sel inilah sitopatologi eksfoliatif dapat dilakukan.

Sel-sel dapat terdeskuamasi dengan dua cara, yaitu secara alami dan secara buatan (biopsi permukaan/surface biopsy). Sel yang terdeskuamasi secara fisiologis atau mengalami turnover akan memperlihatkan gambaran normal dari penuaan dan memperlihatkan perubahan patologis jika terjadi penyakit. Sampel dari sel yang terdeskuamasi secara fisiologis dapat ditemukan pada cairan tubuh dan dikeluarkan melalui aspirasi, misalnya sel mesotelial pada efusi pleura yang diambil dari cairan pleura, yang biasanya diambil sampelnya dengan metode pencucian (wash). Sel epitel rongga mulut yang terdeskuamasi secara fisiologis pun dapat ditemukan di permukaan gigi. Mukosa dikerok dan sel-sel yang masih kontak dengan jaringan terambil sebelum waktu deskuamasi fisiologisnya. Metodenya antara lain dengan kerokan (scrap), sikatan (brush), dan usapan (swab). Pengerokan dapat dilakukan secara tegas maupun halus, tergantung pada tempat yang akan diambil sediaannya. Penyikatan dengan menggunakan cytobrush atau dengan sikat gigi steril diketahui merupakan cara yang paling baik untuk mengambil sel-sel mukosa oral. Namun demikian, spatel untuk pengerokan masih dapat digunakan tetapi membutuhkan pengambilan yang lebih banyak.

Sitopatologi eksfoliatif rongga mulut Eksfoliasi yang dilakukan terhadap mukosa bukal, dasar mulut, palatum molle, dan lidah, akan terlihat sel skuamosa normal dengan ukuran beragam, berinti tunggal, dengan formasi tunggal sampai berjejer dan berdempetan. Eksfoliasi daerah palatum durum memperlihatkan sel dengan inti yang mengalami piknosis karena permukaan palatum normal tersusun atas lapisan ortokeratin. Dengan pewarnaan rutin saja, perubahan hormonal yang dapat mempengaruhi keadaan mukosa mulut tidak dapat dilihat.

Kelebihan dari sitopatologi eksfoliatif diantaranya: metode ini lebih mudah dan cepat untuk diagnosis penunjang dibandingkan histopatologi. Pemeriksaan sitopatologi dapat meningkatkan keakuratan pemeriksaan histopatologi di rongga mulut untuk lesi-lesi jinak dan menjadi sarana screening untuk menentukan lesi-lesi ganas. Dibandingkan eksisi atau insisi biopsi, proses pengambilan sediaan sitopatologi secara eksfoliasi tidak menimbulkan luka atau jejas yang besar, karena luka yang besar akan menyulitkan evaluasi progresivitas penyakit. Metode ini juga dapat mengambil permukaan yang lebih luas dibandingkan insisi atau eksisi terhadap lesi di permukaan mukosa. Struktur sel terkadang dapat dilihat lebih jelas dibanding histopatologis karena pengerutan minimal, dan suatu sel dapat dilihat secara tiga dimensi. Selain itu teknik ini juga dapat diwarnai dengan pewarnaan imunositokimia.

Teknik pengambilan dan pembuatan sediaan

Bahan dan alat yang harus disiapkan dalam pengambilan sampel adalah spatel kayu atau sikat yang dapat dimasukkan ke rongga mulut, objek glass, pensil kaca, dan alkohol 95% untuk fiksasi. Antiseptik oral seperti povidone iodine solution atau chlorhexidine dapat disiapkan untuk sterilisasi sesudah pengambilan sampel. Untuk pembuatan sediaan, diperlukan bahan pewarnaan Papanicolaou, entelan dan cover glass. Pengambilan sediaan dilakukan dengan mengerok atau menyikat mukosa yang akan diambil sampelnya. Spatel kayu dapat digunakan untuk pengambilan sediaan dengan cara scraping. Cara scraping dilakukan dengan cara mengerok mukosa oral secara berulangulang dan dilakukan dalam satu arah sampai terlihat kemerahan di daerah mukosa yang menandakan lamina propria sudah mulai terekspos. Sedangkan dengan metode brushing, penyikatan mukosa dapat dilakukan menggunakan cytobrush atau sikat gigi yang telah disterilisasi dengan merendamnya dalam cairan Chlorhexidine 0,2%. Teknik penyikatan juga dilakukan secara berulang dan dengan arah yang sama. Setelah dilakukan pengambilan sampel, spatel kayu atau sikat diapus pada objek glass yang sudah bersih dan sudah ditandai terlebih dahulu dengan nomor pasien atau regio pengambilan sampel di rongga mulut.

Objek glass yang sudah diapus harus segera dimasukkan ke larutan fiksasi dan tidak boleh dikeringkan untuk mencegah pembusukan spesimen, perubahan sel, dan kontaminasi. Bahan fiksasi untuk pewrnaan rutin yaitu alkohol 95%. Fiksasi juga berguna untuk mengkondisikan struktur sel agar dapat diwarna. Fiksasi dilakukan minimal selama 20-30 menit. Perendaman di larutan yang dilakukan kurang dari 20 menit akan menyebabkan sampel mudah lepas dari objek glass. Preparat yang sudah difiksasi kemudian dikeluarkan dari alkohol dan dibilas dengan air bersih kemudian dilakukan pewarnaan dengan metode Papanicolaou, ditutup dengan entelan dan cover glass, dan langsung dapat dilihat secara mikroskopis.



REFERENSI

http://rstn.boalemokab.go.id/berita-136-pemeriksaan-sitologi.html#:~:text=Didalam%20pelayanan%20pemeriksaan%20laboratorium%20Patologi,adalah%20tindakan%20medik%20untuk%20mengambil 

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/Sitohistoteknologi-SC.pdf&ved=2ahUKEwjy-p3ozMDtAhVIWysKHb8GB14QFjAAegQIARAB&usg=AOvVaw1ITMKhEIprsMf83M2Wd6_a

 https://id.scribd.com/doc/265608320/PRAKTIKUM-SITOHISTOTEKNOLOGI