Jumat, 22 Mei 2020

Minggu, 03 Mei 2020

prosedur kerja Tes TIBC

PROSEDUR KERJA TES TIBC
Pra Analitik
Persiapan pasien: pasien berhenti meminum obat oral Fe 12 jam sebelumnya.
Persiapan sampel: serum atau plasma heparin
Prinsip: 
TIBC dievaluasi setelah transferrin sampai junuh oleh larutan besi dan kelebihan besi akan diabsorpsi oleh magnesium hydroxide carbonate. Setelah dicentrifuge, konsentrasi besi dalam supernatant diukur.
Alat dan bahan
Alat 
Tabung plastik 
Glassware
Bahan
Serum atau plasma heparin
Iron free water
Reagen 1 dan reagen 2 TIBC
Standar
Analitik
TIBC
Dimasukan 1 ml reagen R1 dan sampel 0,5 ml pada tabung 1. Inkubasi selama 5 menit.
Ditambahkan 1 sendok takar reagen R2 pada.
Inkubasi selama 20 menit kemudian dicentrifuge 3000 rpm selama 10 menit.
Diambil supernatant
Diperiksa supernatan seperti pada S1 dengan supernatant : regan=1:3.
Pasca Analitik  
TIBC: 
1. Laki-laki dewasa: 2,6-3,9 mg/l
446,5-69,8 umol/l
260-390 ug/l
2. Wanita dewasa: 2,1-3,44 mg/l
37,6-60,9 umol/l
210-340 ug/l

Prosedur kerja feritin

PROSEDUR KERJA FERRITIN
A. PRINSIP
Antibodi dengan high affinity terhadap ferritin (antiferritin Ig G) akan berikatan dengan ferritin serum dan selanjutnya dilabel dengan enzim horseradish peroxidase dan dibaca OD-nya pada panjang gelombang 492 nm.
B. PRA ANALITIK
Alat yang digunakan :
Spuit 3cc
Jarum suntik ukuran 23 G
Kapas dan alkohol
Tabung EDTA
Popet mikro
Microliter plate reader untuk absorbansi 492 nm.
Sentrifuge
Kertas grafik
2. Bahan yang digunakan :
50 ul serum
Preparat antiferitin Ig G
Buffer A, B, C dan D
Larutan substrat
Larutan standar ferritin
C. ANALITIK
1. Melapisi microtiter plate, dengan cara :
a).  Mengencerkan preparat antiferitin Ig G dengan 2 ug/ml buffer C, menambahkan 200ul kedalam tiap-tiap sumuran
b). Menutup dan melakukan inkubasi semalam pada suhu 40 C. Mengosongkan sumuran dengan cara dibalik dan melakukan tapping pada handuk kering.
c). Menambahkan 200 ul 0,05% BSA dalam buffer C, kemudian didiamkan 30 menit dalam suhu ruangan.
d). Mencuci setiap sumuran dengan buffer A tiga kali, kemudian plate dapat disimpan sampai 1 minggu pada tempat kering dan suhu 40C.
2.  Mengencerkan 50ul serum dengan 1 ml buffer B
3. Menambahkan 200 ul larutan standard an serum ke dalam tiap sumuran dalam waktu 20 menit.
4. Menutup dan mendiamkan selama 20 menit pada suhu kamar dan menghindarkan dari sinar matahari.
5. Mengosongkan sumuran dan mencuci tiga kali dengan buffer A.
6.  Menambahkan 200 ul preparat konjugasi antiferitin Ig G dengan horseradish peroxidase yang telah di encerkan, menutup dan mendiamkan selama 2 jam pada suhu kamar.
7. Mencuci tiga kali dengan buffer A
8. Menambahkan 200 ul larutan substrat pada tiap-tiap sumuran, melakukan inkubasi selama 30 menit.
9. Menambahkan 50 ul asam sulfur 4 M pada tiap-tiap sumuran untuk menghentikan reaksi.
10.  Menunggu 30 menit dan membaca absorbansinya pada 492 nm dengan microtiter plate reader, atau mengambil 200 ul larutan dari tiap sumuran dan masukkan dalam 800 ul air, kemudian dibaca dengan fotometer.
D.  PASCA ANALITIK
Pria : 18-270 mcg/L
Wanita : 18-160 mcg/L
Anak-anak : 7-140 mcg/L
Bayi usia 1-5 bulan : 50-200 mcg/L
Bayi baru lahir : 25-200 mcg/L

Laporan pemeriksaan retikulosit

LAPORAN HEMATOLOGI
 “PEMERIKSAAN RETIKULOSIT”





NAMA            : ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA
NIM : 18 3145 353 108
KELAS : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
      Darah merupakan jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai saran transport, alat hemoestatis dan alat pertahanan. darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping sel (trombosit). cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum. (Dewi, 2017).
    Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organel abasofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila di cat dengan pengecatan birumetilin. Retikulositakan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara1 –2%.  (Ketut, 2010)
 Pemeriksaan retikulosit setelah ditemukannya pemeriksaaan dengan alat yangl ebih canggih dengan pewarnaan yang spesifik untuk RNA. Hasil pemeriksaan ini jauh lebih tepat dan akurat walaupun pada kosentrasi retikulosit yang rendah. Bahkan generasi terakhir dari alat ini mampu memberikan informasi tambahan seperti adanya gambaran fraksiretikulosit muda (IRF) dan beberapa paremeter lainnya seperti MCVr (Reticulocyte Mean Corpuscular Volume), MCHCr (Reticulocyte Mean CorpuscularHemoglobin Concentration)dan rerata kadar hemoglobin dalam retikulosit(CHr). 4,5 Kadar retikulosit darah mencerminkan ukuran kuantitatif dari eritropoiesis, sedangkan parameter retikulosit lebih memberikan informasi kondisi tentang kualitas retikulosit. Sekarang ini indek retikulosit yang banyak dipakai di klinis adalah CHr. Kandungan hemoglobin dianggap konstan sepanjang masa hidup dari eritrosit dan retikulosit kecuali kalau ada perubahan struktural yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi dan fragmentasi intraseluler. Selama proses perkembangannya retukulosit didalam sumsum tulang akan membuat hemoglobin. CHr yang merupakan refleksi pembuatan hemoglobin yang terbaru di sumsum tulang juga merupakan cermin dari adanya cadangan besi yang adekuat. (Ketut, 2010).
Oleh karena itu, dilakukannya pemeriksaan retikulosit ini yaitu untuk mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini yaitu untuk mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
         Darah merupakan cairan tubuh yang bewarna merah dan terdapat di dalam sistem peredaran darah, tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. darah berfungsi memasukan oksigen dan bahan makanan ke seluruh tubuh serta mengambil karbon dioksida dan metabolit jaringan. mengetahui golongan darah seseorang sangatlah penting di ketahui untuk kepentingan medis yaitu salah satunya untuk transfusi. (Anita,2016)
         Retikulosit adalah sel dari seri eritroid tidak berinti yang dapat dilihat dengan pewarnaan supravital. Menurut NCLLS-ICSH 1997, retikulosit adalah sel yang dapat dilihat dengan pewarnaan supravital yang mewarnai asam nukelat dan harus mempunyai lebih dari 2 granula yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya dan granula tersebut tidak boleh berada di tepi membran sel. Pewarnaan supravital yang dapat digunakan adalah larutan Brilliant Cresyl Blue, New Methylene Blue, Azure B, Acridine orange untuk metoda visual dan zat warna fluorokrom seperti Thiazole orange, Auramine O, Oxazine dan Polymethine yang bisa digunakan pada metode otomatik. (Riadi, 2010).
Retikulosit yang sangat muda (imatur) adalah retikulosit yang dilepaskan kedarah tepi akibat adanya rangsangan akibat anemia dan halini disebut stressed reticulocyte. Retikulosit jenis ini mempunyai masa hidup invivo yangl ebih pendek apabila ditranfusikan kedalam resipien normal dan secara umum dianggap sel ini tidak normal karena tidak melalui perkembangan sel yang normal sampai kedivisiterminal dari perkembangan retikulosit. Sebuah studi ingin meneliti masa hidup dari retikulosit normal dan retikulosit stress ini baik pada pasien normal maupun pasien anemia. (Ketut, 2010).
Perhitungan retikulosit dengan cara otomatik menggunakan darah dengan anti-koagulan K3EDTA dicampur dengan zat warna polimetin yang ditembak oleh sinar laser, sehingga terjadi fluoresensi yang dapat ditangkap oleh “optical detector blocked”. Berdasarkan intensitas cahaya flourescence yang ditimbulkan oleh retikulosit, dibedakan menjadi retikulosit dengan Low Fluorescence Ratio (LFR), Middle Fluorescence Ratio (MFR) dan High Fluorescence Ratio (HFR). Penjumlahan dari HFR dan LFR retikulosit dilaporkan sebagai Immature Reticulocyte Fraction (IRF). Dengan alat tersebut di atas, retikulosit dapat dilaporkan secara relatif dalam satuan persen (%) atau secara absolut dalam mikroliter (µL)/darah. (Riadi, 2010).
       Parameter retikulosit yang lain yang bisa dihasilkan oleh analiser automatis adalah fraksi retikulosit muda (IRF). Retikulosit muda ini berkorelasi dengan tingkat floresensi yang tinggi pada flow sitometer dan ini diakibatkan oleh tingginya kandungan protein RNAnya. Retikulosit muda ini bisa digunakan sebagai indicator aktifitas eritropoietik. Oleh karena itu, pemeriksaan parameter ini kurang spesifik oleh adanya gangguan dan pengaruh leukosit dan juga kesulitan untuk standarisasi, penggunaan klinis dari pemeriksaan IRF masih sangat terbatas. Fraksi retikulosit imaturini mencerminkan derajat eritropoiesis akan tetapi tidak sebagai indikator adanya eritropoiesis yang ironrestricted. (Ketut, 2010).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi, lingkungan dan status kesehatan. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit cacing. (Zefika, 2019)
       Tubuh yang kehilangan darah akan menimbulkan respon eritropoetin yang diatur oleh hormon eritropoietin yang diproduksi oleh ginjal dalam enam jam, dan hitung retikulosit naik dalam dua sampai tiga hari. Angka ini akan tetap tinggi sampai kadar hemoglobin kembali. normal. Hitung retikulosit yang tidak meningkat pada seseorang memberi dugaan terganggunya fungsi sumsum tulang atau kurangnya rangsangan eritropoitin Tubuh yang kehilangan darah akan terjadi peningkatan jumlah retikulosit dan menandakan bahwa sumsum tulang bereaksi secara normal. Kehilangan darah biasanya menyebabkan retikulosis yaitu jumlah retikulosit meningkat dari nilai normal dalam waktu 1-2 hari dan mencapai puncaknya pada hari ke-4 sampai ke-7 (Yane, 2015)
      Hitung retikulosit yang meningkat pada kadar hemoglobin yang normal menunjukkan bahwa sel darah merah sedang mengalami kerusakan atau hilang, tetapi sumsum tulang telah meningkatkan produksi eritrosit untuk mengkompensasi kebutuhan tubuh. Pada kadar hemoglobin yang rendah, hitung retikulosit 0,5% sampai 2,5% mengisyaratkan bahwa respon terhadap anemia tidak memadai. Hal ini dapat terjadi akibat gangguan atau penurunan produksi sumsum tulang atau penurunan kadar eritropoietin. Apabila seseorang mengidap anemia, jumlah eritrosit yang beredar turun sehingga presentasi retikulosit “normal" (0,5%- 2,5%) akan meningkat. Pada defisiensi besi, terutama pada anemia akibat pengeluaran darah berkepanjangan, pemberian terapi besi menghasilkan respons retikulosit dalam 4 sampai 7 hari. (Zefika, 2019)
Hitung jumlah normal retikulosit adalah 0,5-2,5% dari jumlah absolute 25- 125x109 /l. Jumlah ini seharusnya meningkat pada anemia karena terjadinya peningkatan eritropoietin dan makin tinggi jika anemia makin berat. Kekurangan zat besi menimbulkan gangguan atau hambatan dalam pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Hingga saat ini pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan ditujukan khususnya pada ibu hamil sedangkan pada remaja putri jarang diperhatikan. Anemia dapat dicegah maka konsumsi makanan yang kaya zat besi perlu dilakukan dan juga diimbangi dengan pemberian tablet zat besi. (Zefika, 2019)
Tingkat maturitas retikulosit dapat menjadi indikator klinis aktivitas eritropoetik serta informasi tambahan yang berguna di samping nilai hitung retikulosit. Peningkatan retikulosit imatur umumnya terjadi pada regenerasi sumsum tulang pasca kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang dan pasca terapi anemia sehingga dapat digunakan untuk mengikuti hasil pengobatan anemia7 . Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan massa eritrosit dengan akibat oksigenasi jaringan tidak dapat terpenuhi. Beberapa jenis anemia yang ada pada pasien tuberkulosis yaitu anemia penyakit kronis, merupakan salah satu penyebab tersering anemia pada penderita. Anemia penyakit kronis ditemukan pada 72 % penderita tuberkulosis yang mengalami infiltrasi ke sumsum tulang. (Sri, 2018)
Pemeriksaan preparat apus darah tepi merupakan bagian yang penting dari rangkaian pemeriksaan hematologi. Keunggulan dari pemeriksaan apus darah tepi ialah mampu menilai berbagai unsur sel darah tepi seperti morfologi sel (eritrosit, leukosit, trombosit), menentukan jumlah dan jenis leukosit, mengestimasi jumlah trombosit dan mengidentifikasi adanya parasit. Tujuan dilakukannya pewarnaan pada preparat apus darah tepi yaitu agar memudahkan dalam melihat berbagai jenis sel dan juga dalam mengevaluasi morfologi dari sel-sel tersebut. International Council for Standardization in Haematology (ICSH) merekomendasikan metode pewarnaan Romanowsky karena pewarnaan ini mampu memberikan hasil memuaskan pada apusan darah tepi. Beberapa pewarnaan yang termasuk dalam metode pewarnaan Romanowsky yaitu pewarnaan Wright, Giemsa, WrightGiemsa, Leishman, May-Grundwald dan pewarnaan Jenner. Pewarna Romanowsky mengandung pewarna kationik atau basa seperti (1) azure B yang dapat memberikan warna biru-ungu atau biru pada inti sel, nukleoprotein, granula basofil dan granula neutrofil, dan (2) pewarna anion atau asam, seperti eosin Y dapat memberikan warna. (Rinny, 2018).













BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu
          Adapun waktu yang dilaksanakannya peda praktikum Hematologi III kali ini  yaitu :
Hari       : Sabtu
Tanggal : 25 April 2020
Pukul     :  08.00-10.00 WITA. 
B.  Alat Dan Bahan
1.  Alat
Mikroskop
Mikropipet 50ml + Tips kuning
Tabung Reaksi 12x75mm
Kaca objek
           2.  Bahan
Darah EDTA
Larutan BCB (Briliant Cresyl Blue)
Oil Emersi
C. Prinsip Kerja
     Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital.
D. Pra-Analitik
1.  Persiapan Pasien :
Tidak memerlukan persiapan khusus
2. Persiapan  Sampel :
  Tes sebaiknya   dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam darah dimasukkan kedalam   tabung EDTA.
     E.  Analitik
Disiapkan darah EDTA ±2cc
Dipipet 50ml larutan BCB, Masukkan dalam tabung reaksi
 Dipipet 50ml darah EDTA dan homogenkan bersama larutan BCB
 Diinkubasi campuran larutan  tadi selama 15-20’ pada suhu 37 derajat
Dibuat apusan dari campuran larutan seperti apusan darah tipis
Dikeringkan dan kemudian langsung baca dibawah miscroskop menggunakan pembesaran 100x
Diitung jumlah retikulosit dalam 1000 eritrosit.
F. Pasca Analitik
1. Dewasa : 0.5 - 1.5 %
2.  Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
3.  Bayi : 0.5 - 3.5 %
4. Anak : 0.5 - 2.0 %























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
B. PEMBAHASAN
Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organel abasofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang berupa endapan dan berwarna biru apabila di cat dengan pengecatan birumetilin. Retikulositakan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit
Adapun prinsip kerja dari pemeriksaan retikulosit yaitu setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital. Tujuan dilakukannya pemeriksaan ini yaitu untuk mengetahui jumlah sel didalam darah muda.
Pada tahap pertama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, kemudian di ambil reagen TBC (pemeriksaan retikulosit), dengan menggunakan pipet tetes, sebanyak 3 tetes dan dimasukkan kedalam tabung reaksi, setelah itu, ditambahkan darah yang ada dalam tabung EDTA dimasukan darah sebanyak 3 tetes, kemudian dihomogenkan dan di inkubasi selama 15 menit. Setelah diinkubasi diambil 1 tetes lalu diteteskan diatas objek glass. Selanjutnya dibuat apusan darah tepi dengan menggunakan kaca objek yang satunya. dengan cara di tarik secara perlahan-lahan hingga terbentuknya apusan yang menyerupai lidah kucing. Dikeringkan dan diamati dibawah mikroskop.
Adapun hasil yang didapatkan pada praktikum kali ini yaitu ditemukan sel darah merah muda yang tidak lagi mengandung inti dan masih memiliki sisa-sisa asam ribonukleat di dalam sitoplasmanya.  
Pada perbesaran 100X bentuk retikulosit dan eritrosit sudah dapat dilihat secara jelas. Bentuk retikulosit tampak seperti eritrosit namun memiliki ukuran yang lebih besar dengan bintik-bintik yang abnormal berwarna biru, dimana bintik-bintik berwarna biru ini merupakan sisa dari RNA yang basophilic.
Dalam pembacaan preparat, hitung retikulosit dimulai dari lapang pandang yang terdapat retikulositnya. Perhitungn terus dilakukan hingga dicapai jumlah eritrosit yang mendekati 1000, karena dalam menentukan jumlah retikulosit digunakan rumus: Jumlah retikulosit dibagi jumlah 1000 eritrosit di kali 100%. Apabila terdapat eritrosit yang saling bertumpukan dan memiliki jumlah eritrosit yang terlalu padat, maka eritrosit tersebut tidak perlu dihitung karena dapat mempersulit pada saat proses perhitungan.
Adapun nilai rujukan untuk jumlah retikulosit di dalam darah yaitu 0,5%-1,5%.







BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Didapatkan hasil jumlah retikulosit didalam sel darah merah, dengan menggunakan apusan darah tepi.
B. SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya. 






















DAFTAR PUSTAKA

Ardina, Rinny dan sherly. 2018. “Morfologi eosinophil pada apusan darah tepi menggunakan pewarnaan giemsa, wrigh, dan kombinasi wright-giemsa”. Palangkaraya :UMP

Anita, oktari dan Nida daeniur silvia.2016.”Pemeriksaan golongan darah sistem ABO metode slide dengan reagen serum golongan darah ABO”.Bandung: Sekolah tinggi analis bakti asih bandung.

Dewi Ratih,Dkk. 2017. “Perbedaan Hitung Jumlah Trombosit Metode Impedansi Langsung Dan Barbara Brown”. Semarang : Implementasi Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat

Ivana, Zefika Lutfi dan Lucia. 2019. “Pemeriksaan Jumlah retikulosit sebelum dan sesudah pemberian tablet tambah darah”. Surakarta : Universitas setia budi Surakarta

Idris, Sri Aprilianti, 2018. “Gambaran Retikulosit Terhadap pemberian obat anti tuberculosis (OAT) pada pasien tuberculosis paru dipuskesmas perumnas kadia kota kendari”. Kendari : Politeknik bina husada kendari

Liswati, Yane dan Firda. 2015. “Gambaran jumlah retikulosit sebelum dan setelah donor darah”. Tasikmalaya :STIkes BTH Tasikmalaya

Suega, ketut. 2010. “Aplikasi Klinis Retikulosit”. Denpasar : Universitas Udayana

Wirawan, Riadi. 2010. “Retikulosit”. Jakarta : Medika