LAPORAN HEMATOLOGI
“PEMERIKSAAN TES DARAH RUTIN (TES SARING) MENGGUNAKAN ALAT AUTOMATIC”
NAMA : ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA
NIM : 18 3145 353 108
KELAS : 2018 C
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Darah merupakan jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai saran transport, alat hemoestatis dan alat pertahanan. darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit),sel darah putih (leukosit), dan keping sel (trombosit). cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum. (Dewi, 2017).
Trombosit dapat di hitung secara langsung maupun tak lansung. secara langsung dilakukan secara manual yaitu dengan metode rees ecker ada cara tak langsung dengan metode fonio dan Barbara brown. setiap metode memiliki kelebihan dan kurangan masing masing. kelebihan dari hitung jumlah trombosit secara manual yaitu mudah dan sederhana tetapi kekuranga hitung trombosit secara manual yaitu pengamatan dengan mata seseorang sangat di pengaruhi oleh kemampuan dan ketahanan pengamat serta membutuhkan waktu yang cukup lama berbeda dengan cara sediaan apus darah tepi mempunyai kelebihan karena dapat mengamati ukuran dan morfologi trombosit, tetapi kekurangannya adalah penyebaran trombosit yang tidak merata karena perlekatan trombosit pada kaca sehingga menyebabkan penilaian jumlah trombosit yang berbeda beda. (Dewi, 2017)
Pemeriksaan hematologi yang termasuk dalam faal Hemostasis yaitu hitung trombosit. Salah satu pemeriksaan faal hemostasis yang penting adalah hitung trombosit. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menghitung jumlah trombosit yang ada pada tiap 1 ml darah. Penurunan jumlah trombosit yang signifikan akan berpengaruh dalam proses pembekuan darah Sampel yang akan digunakan dalam pemeriksaan adalah darah vena dengan anticoagulant EDTA (Ethylendiamine Tetyraacetid acid) yang berfungsi untuk mencegah penggumpalan trombosit. (Sujud, 2015).
Oleh karena itu, dilakukannya praktikum pemeriksaan tes darah rutin ini yaitu untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, kadar hemoglobin pada seseorang.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dilakukannya praktikum pemeriksaan tes darah rutin yaitu untuk mengetahui kondisi kesehatan, dan untuk mengetahui jumlah sel darah merah apakah lebih rendah dari jumlah normal atau tidak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan cairan tubuh yang bewarna merah dan terdapat di dalam sistem peredaran darah, tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. darah berfungsi memasukan oksigen dan bahan makanan ke seluruh tubuh serta mengambil karbon dioksida dan metabolit jaringan. mengetahui golongan darah seseorang sangatlah penting di ketahui untuk kepentingan medis yaitu salah satunya untuk transfusi. (Anita,2016)
Tes darah lengkap merupakan tes sederhana yang pertama kali dilakukan sebagai penunjang. Pada hasil laboratorium tes darah lengkap dapat dilihat adanya pansitopenia. Walaupun hal tersebut tidak menunjukan marker yang spesifik, dimana hanya menunjukan adanya pansitopenia serta harus memperhatikan kemungkinan diagnosis lain. Hasil dari pemeriksaan laboratorium tes darah lengkap akan disesuaikan dengan pemeriksaan fisik dan dikonfirmasi dengan dilakukannya aspirasi sumsum tulang belakang. (Dewa, 2019)
Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit, eritrosit, hemoglobin,hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan hitung darah lengkap terdiri dari hemogram ditambah leukosit diferensial yang terdiri dari neutrofil (segmented dan bands), basofil, eosinofil, limfosit dan monosit. Pada pemeriksaan darah lengkap untuk menentukan pansitopenia dapat dilihat dari jumlah eritrosit, leukosit dan trombosit, dimana nantinya akan disesuaikan degan gejala klinis yang ditunjukan oleh pasien. (Dewa, 2019)
Perhitungan jumlah kandungan sel trombosit dalam darah adalah salah satu topik yang penting dalam menentukan beberapa masalah kesehatan atau penyakit. salah satu diagnose penyakit yang membutuhkan data jumlah sel trombosit adalah penyakit demam berdarah Deugle DBD. pada penyakit ini akan menurunkan kosentrasi trombosit darah sampai ketingkat rendah. (Dewi,2017).
TLC dan kadar Hb sangat bermanfaat sebagai petanda untuk pemantauan seseorang yang terinfeksi HIV dan untuk memulai terapi terutama pada daerah dengan fasilitas terbatas. Sebagian besar penderita yang terinfeksi HIV yang akan berkembang menjadi AIDS mengalami penurunan yang cepat dari TLC dan Hb. Penurunan yang cepat dari kedua petanda ini membuktikan bahwa begitu pentingnya TLC dan Hb dalam perkembangan dan patogenesis penyakit sehingga dapat digunakan sebagai pengganti petanda dari CD4 dan Viral load. (Amraini, 2007).
Umumnya trombosit normal, trombositopenia ditemukan pada 3,33% pria sedangkan pada wanita tidak ditemukan. Pada penderita HIV trombositopenia akibat destruksi trombosit akibat antibodi terhadap antigen tertentu dari trombosit. Nilai rendah limfosit terdapat pada pria 46,67% dan wanita 10%, hal ini terjadi karena replikasi virus dalam sel merusak membran dan mengganggu fungsi sel, selain itu limfositopenia terjadi akibat kerusakan pada stem sel sehingga mempengaruhi produk limfosit. Umumnya netrofil normal, netropenia dijumpai pada pria 16,67%, wanita 10% pada penderita HIV netrofil umumnya normal namun apabila menurun kemungkinan disebabkan oleh infeksi oportunistik misalnya cytomegalovirus. (Amraini, 2007).
Fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Masing-masing morfologisel mempunyai ukuran (diameter). Darah terdiri dari sel darah dan plasma. Dalam sel darah terdiri dari hemoglobin, eritrosit, hematokrit (PCV), retikulosit, laju endap darah, trombosit, lekosit dan hitung jenisnya dan hapusan darah tepi. (Devie, 2015)
Hemoglobin atau HB merupakan salah satu dari sekian banyak tolak ukur untuk melihat apakah ada penyakit anemia atau tidak. Hemoglobin adalah suatu protein yang berada didalam darah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. (Eko, 2008).
Hemoglobin terdiri dari kata "haem" dan kata "globin", dimana haem adalah Fe dan protoporfirin adalah mitokondria, globin adalah rantai asam amino (1 pasang rantai α dan 1 pasang non α). Hemoglobin adalah protein globular yang mengandung besi. Terbentuk dari 4 rantai polipeptida (rantai asam amino), terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai beta. Masing-masing rantai tersebut terbuat sadri 141-146 asam amino. Struktur setiap rantai polipeptida yang tiga dimensi dibentuk dari delapan heliks bergantian dengan tujuh segmen non heliks. Setiap rantai mengandung grup prostetik yang dikenal sebagai heme, yang bertanggug jawab pada warna merah pada darah. Molekul heme mengandung cincin porphirin. Pada tengahnya, atom besi bivalen dikoordinasikan. Sel darah merah merupakan komponen esensial pada tubuh manusia yang pada keadaan normal selalu berbentuk bikonkaf, tak berinti dan berfungsi sebagai pembawa oksigen. Fungsi utama dari sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga mempunyai fungsi lain. Hemoglobin merupakan dapur asam-basa (seperti juga pada kebanyakan protein), sehingga hemoglobin bertanggung jawab untuk sebagian besar daya transportasi seluruh darah. (Devie, 2015)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin dan sel darah merah (eritrosit) pada seseorang adalah makanan, usia, jenis kelamin, aktivitas, merokok, dan penyakit yang menyertainya seperti leukemia, thalasemia, dan tuberkulosi. Makanan merupakan zat-zat gizi atau komponen gizi yang terdapat dalam makanan yang dimakan digunakan untuk menyusun terbentuknya hemoglobin yaitu Fe (zat besi) dan protein. Jenis kelamin perempuan lebih mudah mengalami penurunan dari pada laki-laki, terutama pada saat menstruasi. (Dwi, 2015)
Trombosit berperan penting dalam mengontrol perdarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler, trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut. Fungsi utama trombosit adalah pembentuk sumbatan mekanis selama respon haemostati normal terhadap luka vascular. Darah yang sudah tersimpan lebih dari 24 jam tidak lagi mengandung trombosit yang masih berfungsi atau faktor koagulan V dan VIII dalam jumlah. Tanpa trombosit, dapat terjadi kebocoran darah spontan melalui pembuluh darah kecil. Kelainan perdarahan dapat disebabkan oleh kekurangan trombosit ataupun faktor pembekuan dalam sirkulasi darah. Fungsi trombosit dalam plasma darah dapat terganggu akibat insufisiensi sumsum tulang, kerusakan limfa meningkat, atau abnormalitas trombosit beredar. (Brunner, 2010)
Sel-sel darah terdiri dari leukosit (sel darah putih), fungsinya menjaga sistem kekebalan tubuh dan dapat membunuh bakteri atau virus yang coba masuk kedalam tubuh. Eritrosit (sel darah merah), trombosit (keping-keping darah) . (Habibah, dkk, 2016).
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. ALAT DAN BAHAN
1. Hematology analyzer
2. Sampel darah
3. Tabung EDTA
4. Spoit
5. Torniquet
B. PRINSIP PERCOBAAN
Adapun prinsip dari pemeriksaan darah rutin ini yaitu, pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. . Prinsip alat ini didasarkan pada system flow cytometer yaitu system yang memungkinkan sampel darah bisa mengalir melalui celah yang sempit sehingga jumlah sel darah dapat dihitung.
C. PRA ANALITIK
1) Persiapan pasien :
Tidak memerlukan persiapan khusus
2) Persiapan sampel :
Tes sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam darah dimasukkan kedalam tabung EDTA.
D. ANALITIK
CARA KERJA
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
Dibersihkan area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah, dengan menggunakan larutan antiseptic.
Dipasang tourniquet diatas area penusukan
Dimasukan jarum kedalam pembuluh darah vena
Ditutup bekas tusukan dengan menggunakan perban
Diberi label berisi nama dan dibawa kelaboratorium.
Sampel darah yang akan digunakan harus dipastikan sudah homogeny dengan menggunakan antikoagulan
Ditekan tombol whole Blood “WB” pada layar monitor
Ditekan tombol ID dan masukkan nomor sampel yang akan digunakan, lalu tekan enter
Ditekan bagian atas dari tempat sampel danletakkan sampel kedalam adaptor
Ditutup tempat sampel hingga rapat kemudian tekan “RUN”
Secara otomatis hasil akan muncul pada layar
Mencatat hasil dari pemeriksaan.
E. PASCA ANALITIK
1) Hemoglobin (Hb)
Pria dewasa : 14-18 gr/dl
Wanita dewasa : 12-16 gr/dl
Anak – anak : 10-16 gr/dl
Bayi baru lahir : 12 - 24 gr/dl
2) Hematokrit (Ht)
Pria dewasa : 40-48 %
Wanita dewasa : 37-43 %
3) Leukosit : 4.500 – 10.000 sel/mm3
4) Eritrosit
Pria dewasa : 4,5 – 6,2 juta/ mm3
Wanita dewasa : 4,0 – 5,5 juta/ mm3
5) Trombosit : 150.000 – 400.000 sel/mm3
6) LED (Laju Endap Darah)
Pria : <15 mm/jam
Wanita : <20 mm/jam
BAB IV
PEMBAHASAN
Tes darah lengkap merupakan tes sederhana yang pertama kali dilakukan sebagai penunjang. Pada hasil laboratorium tes darah lengkap dapat dilihat adanya pansitopenia.
Prinsip dari pemeriksaan darah rutin ini yaitu, pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. Prinsip alat ini didasarkan pada system flow cytometer yaitu system yang memungkinkan sampel darah bisa mengalir melalui celah yang sempit sehingga jumlah sel darah dapat dihitung.
Pada kasus pertama yaitu darah pada tabung EDTA dimasukkan dalam alat analyzer automatic, ditekan tombol hijau dan alat analyzer ini akan menyedot darah secara otomatis selama satu menit. Dan dilihat hasilnya pada alat pada kasus pertama hemoglobin memiliki nilai hasil 14,8 g/dL dimana berada diambang normal, RBC (Eritrosit) memiliki nilai 5,13 106/uL berada diambang normal, HCT (Hematokrit) memiliki nilai 42,5 % berada diambang normal, nilai MCV (82,8fL), MCH (28,8pg) dan MCHC (34,8) dimana ini semua berada diambang normal. Dimana pada hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak ada kelainan ditrombosit. karena nilai-nilai untuk melihat nilai trombosit semua berada diambang normal. Pada WBC (Leukosit) memiliki nilai 10,0 103uL dimana berada diambang normal, ada kesalahan yang terjadi pada NEUT%, karena tidak melakukan diskriminasi sel, dimana alat ini memiliki kebingungan menghitung jenis leukosit, tidak dapat membedakan jenis-jenis selnya. Sehingga perlu dilakukan diskriminasi secara manual, dimana nilai Limphosit 38% berada diambang normal, nilai platelet 59.000 dimana nilainya dibawah nilai normal. Sehingga pada kasus ini pasien dapat dikatakan bahwa mengalami penyakit trombositopenia. Ini bisa terjadi trombositopenia murni atau karena kasus demam berdarah. Jika kasus tersebut mengatakan bahwa kasus dbd maka yang dilihat adalah nilai hemoglobin dan hematokritnya dan nilai HCT dan HGB normal sehingga ini bukan karena DBD. Dimana, jika seseorang memiliki penyakit trombositopenia ini yaitu dikarenakan jumlah nilai trombositnya dibawah nilai normal.
Faktor-faktor terjadinya trombositopenia yaitu sering terjadi komplikasi perdarahan dan fungsi trombosit yang abnormal. Trombositopenia dapat menyertai beberapa keadaan seperti infeksi virus,kemoterapi dan ITP.
Adapun nilai kurva pada histogramnya yaitu, untuk WBC atau leukosit sel darah putih, ada garis 3 bagian yaitu bagian pertama tidak terbaca, pada garis kedua limfositnya tinggi, RBCnya dalam batas normal karena kurva atau garisnya menunjukan tinggi naik keatas, bahwa dominasi sel-sel yang paling terbanyak dan pada nilai plateletnya menunjukkan garis kurvanya lebar, pada nilai PDWnya 21,1 artinya selnya ini terbagi menjadi platelet keci, platelet besar dan platelet besar sekali. ada platelet yang menujukkan platelet sedang karena pada usia muda ukuranya agak besar dan jika sudah tua plateletnya kecil dan ada grafik yang naik keatas maka ini tidak bisa membedakan platelet berukuran besar atau kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai platelenya rendah tetapi bervariasi.
Pada kasus yang ke dua hasil yang didapatkan dari alat analyzer ini yaitu yang pertama dilihat warna pada hasil terlebih dahulu. Jika nilai berwarna biru maka artinya rendah, jika hitam artinya normal sedangkan jika berwarna merah makan nilai berada diatas nilai normal. Dimana nilai hemoglobin menghasilkan 12,4 g/dL berarti berada diambang normal, nilai RBC (5,39) berada di ambang normal, Tetapi nilai MCV 72,0, MCH 23,0 dan MCHC 32,0. Dimana nilai ini berada dibawah nilai normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi mikrositik hipokrom yang ukuran selnya kecil-kecil dan pucat. Tetapi nilai Hb pada hasil ini yaitu 12,4 g/dL berada di ambang normal. Dan nilai plateletnya yaitu 209, dimana nilai ini berada di ambang normal dan WBCnya 12,0 dimana nilai pada leukosit ini yaitu melebihi nilai normal dengan dominasi neutrophil yaitu 92%, MXD yaitu 2% dimana ini berada di bawah nilai normal, Adapun MXD ini berisi basofil, eosinophil dan monosit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa leukositosis normal morfologinya kecil-kecil dan pucat. Adapun nilai pada grafiknya yaitu yang pertama nilai WBC kurva yang ditujukan tegas dan terbagi menjadi 3 bagian sehingga dapat dikatakan bahwa ini dapat membagi jenis-jenis eusinofil, yang paling rendah adalah MXD, dan tingginya histograf bisofil. Sementara pada RBC garis kurvanya tergeser sedikit ke kiri ukuranya mengecil. Sedangkan pada platelet ukuranya kecil-kecil, namun garis grafik ujung dari platelet ini membaca ukuran eritrosit yang kecil-kecil.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan pada praktikum kali ini yaitu pada kasus pertama nilai eritrosit normal dan nilai leukosit terjadi deskriminasi sel sehingga sulit untuk membedakan jenis-jenis selnya. Sedangkan pada kasus kedua didapatkan hasil bahwa terjadi mikrositik hipokrom yang ukuran selnya kecil-kecil dan pucat. dan juga leukositosis normal morfologinya kecil-kecil dan pucat.
B. SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Anita, oktari dan Nida daeniur silvia.2016.”Pemeriksaan golongan darah sistem ABO metode slide dengan reagen serum golongan darah ABO”.Bandung: Sekolah tinggi analis bakti asih bandung.
Amraini, Afiah, dkk. 2007. “Profil tes darah rutin dan jumlah limfosit total pada penderita HIV/AIDS”. Makassar: UNHAS
Brunner, suddarth. 2010. “Trombosit”. Jakarta : EGC
Dewi, Maharani ratih,dkk.2017.”perbedaan hitung jumlah trombosit metode impedansi, langsung dab Barbara
Dewa, Andyani, dkk. 2019.”Gambaran pemeriksaan laboratorium darah lengkap pada pasien anemia aplastic”. Denpasar: Universitas Udayana
Devie, anamisa rosa.2015. “Rancang bangun metode OTSU untuk deteksi hemoglobin”. Madura: Universitas Trunojoyo Madura
Dwi, saputro aries dan said. 2015. ”pemberian vitamin C pada ltihan fisik maksimal dan perubahan kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit”. Semarang: UNS
Eko, Bastiansyah. 2008. “Membaca hasil tes keseshatan”. Jakarta :Penebar Plus
Habibah,dkk.2016.”Gambaran jumlah trombosit pada perokok aktif dan pasif”.Jawa tengah:Candy mulyo
Sujud, Dkk. 2015, “Perbedaan Jumlah Trombosit Pada Darah EDTA Yang Segerah Di Periksa Dan Penundaan Selama 1 Jam Di Laboratorium RSJ Gharasia Yogyakarta”. Yogyakarta : Medical Laboratory Tecnologi Journal.
