Jumat, 11 Desember 2020

PEMERIKSAAN SITOPATOLOGI DAN HISTOPATOLOGI

 

NAMA            : ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA

NIM                : 18 3145 353 108

KELAS           : 2018/C

 

PEMERIKSAAN SITOPATOLOGI

DAN HISTOPATOLOGI

 

Sitologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sel yang berasal dari tubuh manusia baik yang terlepas sendiri (exfoliated) dari permukaan epitel atau yang diambil dari berbagai tempat dengan cara tertentu. Berperan untuk menentukan perubahan struktur sel dikenal dengan istilah sitologi diagnostik. Bahan-bahan yang dapat diperiksa Sitologi : Urine, dahak, cairan lambung, cairan pleura, ascites, cairan sendi, cairan cerebrospinal, mukosa alat kelamin wanita, aspirasi jaringan tumor.

Patologi anatomi adalah cabang kedokteran yang mempelajari efek penyakit pada struktur organ tubuh, baik secara keseluruhan (secara kasar) maupun secara mikroskopis. Peran utama patologi anatomi adalah untuk mengidentifikasi kelainan yang terdapat dalam tubuh yang dapat membantu mendiagnosis penyakit dan menentukan pengobatan. Meskipun patologi anatomi paling sering digunakan untuk membantu mengidentifikasi dan memantau berbagai jenis tumor atau kanker, tetapi pemeriksaan ini juga berguna dalam mengevaluasi kondisi lain, seperti penyakit ginjal dan hati, gangguan autoimun, dan infeksi. Bahkan di sebagian besar rumah sakit, semua jaringan yang diangkat selama operasi harus diperiksa oleh ahli patologi.

       Ada dua subdivisi utama dalam patologi anatomi, yaitu histopatologi dan sitopatologi (sitologi):

Histopatologi

Histopatologi adalah prosedur yang melibatkan pemeriksaan jaringan utuh yang diambil melalui biopsi atau operasi di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini sering dibantu oleh penggunaan teknik pewarnaan khusus dan tes terkait lainnya, misalnya penggunaan antibodi untuk mengidentifikasi berbagai komponen jaringan pada tubuh.

Sitopatologi

Sitopatologi adalah pemeriksaan sel tunggal atau kelompok sel kecil dari cairan atau jaringan di bawah mikroskop. Sederhananya, prosedur ini dilakukan dengan mengoleskan cairan sampel atau jaringan dari pengidap pada slide yang kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jumlah sel, jenisnya, dan bagaimana rinciannya. Sitopatologi umumnya digunakan sebagai alat skrining untuk mencari penyakit dan memutuskan apakah perlu dilakukan tes lanjutan. Contoh umum dari sitopatologi adalah pap smear, sputum, dan gastric washing.

Secara garis besar ada 2 macam pemeriksaan dasar yang dilakukan yaitu pemeriksaan histopatologi dan sitology:

Pemeriksaan histopatologi adalah pemeriksaan dari jaringan tubuh manusia, di mana jaringan itu dilakukan pemeriksaan dan pemotongan makroskopis, diproses sampai siap menjadi slide atau preparat yang kemudian dilakukaan pembacaan secara mikroskopis untuk penentuan diagnosis.

Pemeriksaan sitologi adalah pemeriksaan dari cairan tubuh manusia yang kemudian diproses, yaitu dilakukan fiksasi dan pemberian pigmen kemudian dilakukan pembacaan dengan mikroskop. Perbedaan utama antara pemeriksaan histopatologi dan sitologi adalah di mana pada pemeriksaan histopatolologi akan tampak struktur jaringan, sedangkan pada pemeriksaan sitologi hanya tampak gambaran sel-sel nya tanpa terlihat struktur jaringannya.

     Patologi anatomi sering dilakukan untuk membantu mengidentifikasi beberapa penyakit berikut:

1. Kanker

Patologi anatomi bisa digunakan untuk mendiagnosis apakah terdapat sel kanker pada tubuh seseorang. Melalui prosedur biopsi, sampel jaringan yang diduga terkena kanker akan diambil dan diperiksa di bawah mikroskop. Dokter akan melihat apakah sel-sel pada organ tersebut masih normal atau sudah berubah menjadi sel kanker. Hampir semua jenis kanker bisa diidentifikasi melalui patologi anatomi, antara lain kanker payudara, kanker serviks, kanker usus, dan kanker hati.

2. Tumor

Tumor adalah pertumbuhan sel-sel yang abnormal dalam tubuh. Sel-sel yang “berbeda” ini bisa dideteksi dengan melakukan patologi anatomi. Melalui prosedur biopsi juga, dokter dapat mengambil sampel tumor dan memeriksanya untuk memastikan ganas atau tidaknya tumor tersebut.

3. Penyakit Ginjal dan Hati

Berbagai penyakit ginjal, seperti batu ginjal dan gagal ginjal kronis, serta penyakit hati, misalnya hepatitis A, B, dan C bisa didiagnosis dengan pemeriksaan jaringan melalui patologi anatomi.

4. Gangguan Autoimun

Lupus, multiple sclerosis, penyakit Graves, dan psoriasis adalah contoh-contoh gangguan autoimun yang bisa diidentifikasi dengan patologi anatomi.

5. Infeksi

Berbagai macam infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, maupun jamur pun bisa diidentifikasi dengan menjalani patologi anatomi.

Didalam pelayanan pemeriksaan laboratorium Patologi Anatomi, pemeriksaan sitologi dibagi dalam 2 bagian yaitu :

1)  Pemeriksaan sitologi exfoliatif misalnya PAP Smear adalah pemeriksaan sitologi dari apusan cervix uteri .

Pemeriksaan PAP Smear merupakan salah satu pemeriksaan preventif yang berperan untuk deteksi dini kanker Rahim selain itu pula dapat menjadi follow up pasca pengobatan. Pap smear berbeda dengan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Pada Pap smear adalah pemeriksaan yang berfungsi mendeteksi perubahan sel-sel leher Rahim (ecto dan endocervix atau bagian luar dan dalam cervix) sedangkan pada IVA adalah pemeriksaan leher Rahim dengan cara melihat langsung dengan mata telanjang permukaan  leher Rahim (cervix) setelah memulas dengan larutan asam acetat 3-5%.

2)  Sitologi aspiratif atau FNAB (Fine needle aspirasi biopsi) adalah tindakan medik untuk mengambil sel dari suatu kelainan organ dengan needle ukuran 22-25 Gauge. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan adanya tumor atau keradangan.

Pemeriksaan FNAB dapat dilakukan di unit rawat jalan setiap rumah sakit maupun praktek. Walaupun akurasi hasil pemeriksaan FNAB masih di bawah pemeriksaan histopatologi dari biopsi terbuka, tetapi dengan panduan data dari pemeriksaan klinis, radiologi dan laboratorium diharapkan hasil pemeriksaan yang cukup baik dengan biaya yang relatif lebih murah.

Alat yang diperlukan untuk FNAB Peralatan dasar yang diperlukan untuk melakukan FNAB sederhana terdiri dari :

· Sebuah syringe holder atau syring pistol / Terumo syring : 3 cc, 5 cc, 10 cc

· Jarum / Needle disposible ukuran 21- 25 G

· Kaca objek untuk pembuatan preparat apus dari aspirat jaringan dan telah diberi nomor / kode sitologi

· Kapas alkohol

· Botol / kotak kaca berisi alkohol 95 % ( untuk fiksasi )

· Sarung tangan steril

· Botol penampung cairan aspirat

· Plester

· Ethyl chloride spray

· Tissue Pembuatan sediaan apus hasil FNAB Untuk pembuatan preparat apus, digunakan kaca objek yang bersih yang sudah diberi label nomor /kode sitologi sesuai dengan nomor yang ada di formulir permintaan FNAB.

Prosedur pembuatan apusan hasil aspirasi adalah sebagai berikut :

· Setiap kaca objek yang sudah di beri nomor di tetesi dengan 1-2 tetes aspirat

· Aspirat diapuskan dengan merata pada kaca objek dengan menggunakan kaca objek yang lainnya.

· Sediaan apus tersebut segera difiksasi dalam alkohol 95 % untuk pewarnaan Papanicolaou, sedangkan untuk pewarnaan Giemsa difiksasi dalam metanol setelah dikeringkan terlebih dahulu.

      

Teknik Pewarnaan

Pewarnaan pada sediaan apus/smear untuk pemeriksaan sitologi bertujuan untuk identifikasi morfologi sel, inti sel maupun sitoplasma sel, sehingga bisa memberikan gambaran menyeluruh kondisi morfologi sel yang diperiksa. Teknik pewarnaan untuk standar pemeriksaan sitologi, yaitu :

1. Pewarnaan Papanicolaou Terdapat lima langkah utama dalam metode pewarnaan Papanicolaou, yaitu :

a. Fiksasi

b. Pewarnaan Inti

c. Pewarnaan sitoplasma

d. Penjernihan ( Clearing )

e. Mounting

2. Pewarnaan Giemsa. Langkah-langkah dalam pewarnaan Giemsa :

a. Fiksasi

b. Pewarnaan dengan larutan Giemsa

c. Mounting           

Prosedur pewarnaan Papanicolaou:

1. Sediaan apusan difiksasi dengan alkohol 95 % 15 menit (minimal)

2. Alkohol 80 % 10 celup

3. Alkohol 70 % 10 celup

4. Alkohol 50 % 10 celup

5. Aquadest 10 celup

6. Harris Haematoxylin 3-5 menit

7. Cuci dengan air mengalir

8. HCL 0,25 % 3-4 celup

9. Cuci dengan air mengair

10. Lithium 0,5 % 10 celup

11. Cuci dengan air mengalir

12. Alkohol 50 % 10 celup

13. Alkohol 70 % 10 celup

14. Alkohol 80 % 10 celup 5

15. Alkohol 95 % 10 celup

16. OG 6 3-5 menit

17. Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup.

18. EA 50 3-5 menit

19. Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup, Alkohol 95 % 10 celup, Keringkan di udara.

20. Xylol 3 menit

21.Tutup dengan Entelan

Keutungan yang diperoleh dari metode pewarnaan Papanicolaou ini menurut Mukawi ( 1989) adalah :

1. Mewarnai inti sel dengan jelas, sehingga dapat dipergunakn untuk melihat inti apabila terdapat kemungkinan keganasan.

2. Menggunakan pewarna banding yang berbeda dengan pewarna utama untuk mewarnai sitoplasma , sehingga warna inti tampak lebih kontras.

3. Warna yang cerah dari sitoplasma memungkinkan dapat dilihatnya sel-sel lain di bagian bawah yang saling bertumpuk.

Prosedur pewarnaan Giemsa

1. Sediaan apus setelah benar-benar kering fiksasi dengan metanol selama 5 menit, angkat dan biarkan kering di udara.

2. Masukkan ke dalam larutan Giemsa yang telah diencerkan selama 30 menit, angkat, cuci dengan air mengalir, keringkan di udara.

3. Masukkan ke dalam Xylol selama 3 menit.

4. Tambahkan 1-2 tetes entelan

5. Tutup dengan cover gelas

6. Bersihkan sisa entelan yang melekat pada kaca objek sehingga siap di beri label.

          Laboratorium patologi anatomi kadang melakukan pengambilan spesimen baik spesimen ginekolog (pap smear) maupun non ginekolog (FNAC). Adapun hal-hal yang harus minimal harus diisikan oleh seorang pasien secara umum adalah namapasien, no rekam medis, no pendaftaran, usia pasien, jenis kelamin pasien, dokter pengirim. Sedangkan untuk jenis pemeriksaan baik ginekolog maupun non-ginekolog adalah sebagai berikut.

1. Pemeriksaan Pasien Ginekolog

a. Persiapan pasien

· Pemeriksaan dilakukan idealnya 2 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir. Sebaiknya hindari pemeriksaan selama menstruasi karena darah dapat mengaburkan temuan. Jika terjadi pengaburan temuan (temuan tidak jelas) karena sesuatu, tetap harus dituliskan/dicatat agar teknisi mengetahui cara memperlakukan spesimen.

 · Jangan menggunakan obat vagina, alat kontrasepsi vagina, atau “douching” (pencucian vagina menggunakan alat khusus) selama 48 jam sebelum pengambilan spesimen.

 · Tidak dianjurkan berhubungan badan sehari sebelum pengambilan spesimen.

b. Sumber spesimen Sumber atau letak pengambilan spesimen (vagina, endoservik, gabungan atau bagian servik) menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini berkaitan dengan sel minimal yang ditemukan untuk menilai kelayakan suatu sediaan.

c. Status homonal Status hormonal yang dimaksud di sini adalah seorang administrasi wajib menanyakan status pasien, apakah dalam masa subur, menstruasi, atau menopause.

2. Pasien pemeriksaan non-ginekolog Pada pemeriksaan non ginekolog hal yang harus didapat dalam adminitrasi tidak sebanyak dari yang pemeriksaan ginekolog. Namun hal yang menjadi penting dalam pemeriksaan akhir baik penentuan patologis ataupun kemungkinan artifak yang muncul dalam sediaan. Adapun data yang harus didapatkan adalah sumber sediaan, waktu pengambilan, teknik pengambilan dan fiksasi tambahan.

3. Spesimen berupa bentuk sediaan siap warna Jika spesimen dikirimkan ke laboratorium dalam bentuk sediaan, maka hal-hal yang harus diperhatikan seorang adminitrasi adalah jenis fiksasi yang digunakan (fiksasi basah atau kering), waktu pengambilan spesimen dan formulir dasar (poin 1). Kesalahan yang sering terjadi pada saat pengiriman dalam bentuk sediaan siap warna adalah sediaan tersebut gagal dalam fiksasi kering maupun basah, debu dan kotoran menempel pada sediaan. Hal tersebut dapat menyebabkan nilai negatif palsu dari hasil pemeriksaan.

       


     Sediaan siap warna (Ariak debu pada sediaan sitologik).

      Sitopatologi eksfoliatif adalah cabang ilmu patologi yang mempelajari morfologi sel terdeskuamasi baik yang normal maupun yang berubah karena proses patologis. Secara fisiologis, sel-sel terutama yang berasal dari jaringan labil terus menerus terdeskuamasi karena jaringan tubuh terus mengalami pembaruan. Tingkat deskuamasi yang terjadi tergantung pada jenis dan lokasi jaringan, fungsi, kapasitas metabolismenya, dan keadaan patologis. Karena sifat sel inilah sitopatologi eksfoliatif dapat dilakukan.

Sel-sel dapat terdeskuamasi dengan dua cara, yaitu secara alami dan secara buatan (biopsi permukaan/surface biopsy). Sel yang terdeskuamasi secara fisiologis atau mengalami turnover akan memperlihatkan gambaran normal dari penuaan dan memperlihatkan perubahan patologis jika terjadi penyakit. Sampel dari sel yang terdeskuamasi secara fisiologis dapat ditemukan pada cairan tubuh dan dikeluarkan melalui aspirasi, misalnya sel mesotelial pada efusi pleura yang diambil dari cairan pleura, yang biasanya diambil sampelnya dengan metode pencucian (wash). Sel epitel rongga mulut yang terdeskuamasi secara fisiologis pun dapat ditemukan di permukaan gigi. Mukosa dikerok dan sel-sel yang masih kontak dengan jaringan terambil sebelum waktu deskuamasi fisiologisnya. Metodenya antara lain dengan kerokan (scrap), sikatan (brush), dan usapan (swab). Pengerokan dapat dilakukan secara tegas maupun halus, tergantung pada tempat yang akan diambil sediaannya. Penyikatan dengan menggunakan cytobrush atau dengan sikat gigi steril diketahui merupakan cara yang paling baik untuk mengambil sel-sel mukosa oral. Namun demikian, spatel untuk pengerokan masih dapat digunakan tetapi membutuhkan pengambilan yang lebih banyak.

Sitopatologi eksfoliatif rongga mulut Eksfoliasi yang dilakukan terhadap mukosa bukal, dasar mulut, palatum molle, dan lidah, akan terlihat sel skuamosa normal dengan ukuran beragam, berinti tunggal, dengan formasi tunggal sampai berjejer dan berdempetan. Eksfoliasi daerah palatum durum memperlihatkan sel dengan inti yang mengalami piknosis karena permukaan palatum normal tersusun atas lapisan ortokeratin. Dengan pewarnaan rutin saja, perubahan hormonal yang dapat mempengaruhi keadaan mukosa mulut tidak dapat dilihat.

Kelebihan dari sitopatologi eksfoliatif diantaranya: metode ini lebih mudah dan cepat untuk diagnosis penunjang dibandingkan histopatologi. Pemeriksaan sitopatologi dapat meningkatkan keakuratan pemeriksaan histopatologi di rongga mulut untuk lesi-lesi jinak dan menjadi sarana screening untuk menentukan lesi-lesi ganas. Dibandingkan eksisi atau insisi biopsi, proses pengambilan sediaan sitopatologi secara eksfoliasi tidak menimbulkan luka atau jejas yang besar, karena luka yang besar akan menyulitkan evaluasi progresivitas penyakit. Metode ini juga dapat mengambil permukaan yang lebih luas dibandingkan insisi atau eksisi terhadap lesi di permukaan mukosa. Struktur sel terkadang dapat dilihat lebih jelas dibanding histopatologis karena pengerutan minimal, dan suatu sel dapat dilihat secara tiga dimensi. Selain itu teknik ini juga dapat diwarnai dengan pewarnaan imunositokimia.

Teknik pengambilan dan pembuatan sediaan

Bahan dan alat yang harus disiapkan dalam pengambilan sampel adalah spatel kayu atau sikat yang dapat dimasukkan ke rongga mulut, objek glass, pensil kaca, dan alkohol 95% untuk fiksasi. Antiseptik oral seperti povidone iodine solution atau chlorhexidine dapat disiapkan untuk sterilisasi sesudah pengambilan sampel. Untuk pembuatan sediaan, diperlukan bahan pewarnaan Papanicolaou, entelan dan cover glass. Pengambilan sediaan dilakukan dengan mengerok atau menyikat mukosa yang akan diambil sampelnya. Spatel kayu dapat digunakan untuk pengambilan sediaan dengan cara scraping. Cara scraping dilakukan dengan cara mengerok mukosa oral secara berulangulang dan dilakukan dalam satu arah sampai terlihat kemerahan di daerah mukosa yang menandakan lamina propria sudah mulai terekspos. Sedangkan dengan metode brushing, penyikatan mukosa dapat dilakukan menggunakan cytobrush atau sikat gigi yang telah disterilisasi dengan merendamnya dalam cairan Chlorhexidine 0,2%. Teknik penyikatan juga dilakukan secara berulang dan dengan arah yang sama. Setelah dilakukan pengambilan sampel, spatel kayu atau sikat diapus pada objek glass yang sudah bersih dan sudah ditandai terlebih dahulu dengan nomor pasien atau regio pengambilan sampel di rongga mulut.

Objek glass yang sudah diapus harus segera dimasukkan ke larutan fiksasi dan tidak boleh dikeringkan untuk mencegah pembusukan spesimen, perubahan sel, dan kontaminasi. Bahan fiksasi untuk pewrnaan rutin yaitu alkohol 95%. Fiksasi juga berguna untuk mengkondisikan struktur sel agar dapat diwarna. Fiksasi dilakukan minimal selama 20-30 menit. Perendaman di larutan yang dilakukan kurang dari 20 menit akan menyebabkan sampel mudah lepas dari objek glass. Preparat yang sudah difiksasi kemudian dikeluarkan dari alkohol dan dibilas dengan air bersih kemudian dilakukan pewarnaan dengan metode Papanicolaou, ditutup dengan entelan dan cover glass, dan langsung dapat dilihat secara mikroskopis.



REFERENSI

http://rstn.boalemokab.go.id/berita-136-pemeriksaan-sitologi.html#:~:text=Didalam%20pelayanan%20pemeriksaan%20laboratorium%20Patologi,adalah%20tindakan%20medik%20untuk%20mengambil 

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/Sitohistoteknologi-SC.pdf&ved=2ahUKEwjy-p3ozMDtAhVIWysKHb8GB14QFjAAegQIARAB&usg=AOvVaw1ITMKhEIprsMf83M2Wd6_a

 https://id.scribd.com/doc/265608320/PRAKTIKUM-SITOHISTOTEKNOLOGI

 

Jumat, 22 Mei 2020

Minggu, 03 Mei 2020

prosedur kerja Tes TIBC

PROSEDUR KERJA TES TIBC
Pra Analitik
Persiapan pasien: pasien berhenti meminum obat oral Fe 12 jam sebelumnya.
Persiapan sampel: serum atau plasma heparin
Prinsip: 
TIBC dievaluasi setelah transferrin sampai junuh oleh larutan besi dan kelebihan besi akan diabsorpsi oleh magnesium hydroxide carbonate. Setelah dicentrifuge, konsentrasi besi dalam supernatant diukur.
Alat dan bahan
Alat 
Tabung plastik 
Glassware
Bahan
Serum atau plasma heparin
Iron free water
Reagen 1 dan reagen 2 TIBC
Standar
Analitik
TIBC
Dimasukan 1 ml reagen R1 dan sampel 0,5 ml pada tabung 1. Inkubasi selama 5 menit.
Ditambahkan 1 sendok takar reagen R2 pada.
Inkubasi selama 20 menit kemudian dicentrifuge 3000 rpm selama 10 menit.
Diambil supernatant
Diperiksa supernatan seperti pada S1 dengan supernatant : regan=1:3.
Pasca Analitik  
TIBC: 
1. Laki-laki dewasa: 2,6-3,9 mg/l
446,5-69,8 umol/l
260-390 ug/l
2. Wanita dewasa: 2,1-3,44 mg/l
37,6-60,9 umol/l
210-340 ug/l

Prosedur kerja feritin

PROSEDUR KERJA FERRITIN
A. PRINSIP
Antibodi dengan high affinity terhadap ferritin (antiferritin Ig G) akan berikatan dengan ferritin serum dan selanjutnya dilabel dengan enzim horseradish peroxidase dan dibaca OD-nya pada panjang gelombang 492 nm.
B. PRA ANALITIK
Alat yang digunakan :
Spuit 3cc
Jarum suntik ukuran 23 G
Kapas dan alkohol
Tabung EDTA
Popet mikro
Microliter plate reader untuk absorbansi 492 nm.
Sentrifuge
Kertas grafik
2. Bahan yang digunakan :
50 ul serum
Preparat antiferitin Ig G
Buffer A, B, C dan D
Larutan substrat
Larutan standar ferritin
C. ANALITIK
1. Melapisi microtiter plate, dengan cara :
a).  Mengencerkan preparat antiferitin Ig G dengan 2 ug/ml buffer C, menambahkan 200ul kedalam tiap-tiap sumuran
b). Menutup dan melakukan inkubasi semalam pada suhu 40 C. Mengosongkan sumuran dengan cara dibalik dan melakukan tapping pada handuk kering.
c). Menambahkan 200 ul 0,05% BSA dalam buffer C, kemudian didiamkan 30 menit dalam suhu ruangan.
d). Mencuci setiap sumuran dengan buffer A tiga kali, kemudian plate dapat disimpan sampai 1 minggu pada tempat kering dan suhu 40C.
2.  Mengencerkan 50ul serum dengan 1 ml buffer B
3. Menambahkan 200 ul larutan standard an serum ke dalam tiap sumuran dalam waktu 20 menit.
4. Menutup dan mendiamkan selama 20 menit pada suhu kamar dan menghindarkan dari sinar matahari.
5. Mengosongkan sumuran dan mencuci tiga kali dengan buffer A.
6.  Menambahkan 200 ul preparat konjugasi antiferitin Ig G dengan horseradish peroxidase yang telah di encerkan, menutup dan mendiamkan selama 2 jam pada suhu kamar.
7. Mencuci tiga kali dengan buffer A
8. Menambahkan 200 ul larutan substrat pada tiap-tiap sumuran, melakukan inkubasi selama 30 menit.
9. Menambahkan 50 ul asam sulfur 4 M pada tiap-tiap sumuran untuk menghentikan reaksi.
10.  Menunggu 30 menit dan membaca absorbansinya pada 492 nm dengan microtiter plate reader, atau mengambil 200 ul larutan dari tiap sumuran dan masukkan dalam 800 ul air, kemudian dibaca dengan fotometer.
D.  PASCA ANALITIK
Pria : 18-270 mcg/L
Wanita : 18-160 mcg/L
Anak-anak : 7-140 mcg/L
Bayi usia 1-5 bulan : 50-200 mcg/L
Bayi baru lahir : 25-200 mcg/L

Laporan pemeriksaan retikulosit

LAPORAN HEMATOLOGI
 “PEMERIKSAAN RETIKULOSIT”





NAMA            : ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA
NIM : 18 3145 353 108
KELAS : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
      Darah merupakan jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai saran transport, alat hemoestatis dan alat pertahanan. darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping sel (trombosit). cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum. (Dewi, 2017).
    Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organel abasofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila di cat dengan pengecatan birumetilin. Retikulositakan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara1 –2%.  (Ketut, 2010)
 Pemeriksaan retikulosit setelah ditemukannya pemeriksaaan dengan alat yangl ebih canggih dengan pewarnaan yang spesifik untuk RNA. Hasil pemeriksaan ini jauh lebih tepat dan akurat walaupun pada kosentrasi retikulosit yang rendah. Bahkan generasi terakhir dari alat ini mampu memberikan informasi tambahan seperti adanya gambaran fraksiretikulosit muda (IRF) dan beberapa paremeter lainnya seperti MCVr (Reticulocyte Mean Corpuscular Volume), MCHCr (Reticulocyte Mean CorpuscularHemoglobin Concentration)dan rerata kadar hemoglobin dalam retikulosit(CHr). 4,5 Kadar retikulosit darah mencerminkan ukuran kuantitatif dari eritropoiesis, sedangkan parameter retikulosit lebih memberikan informasi kondisi tentang kualitas retikulosit. Sekarang ini indek retikulosit yang banyak dipakai di klinis adalah CHr. Kandungan hemoglobin dianggap konstan sepanjang masa hidup dari eritrosit dan retikulosit kecuali kalau ada perubahan struktural yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi dan fragmentasi intraseluler. Selama proses perkembangannya retukulosit didalam sumsum tulang akan membuat hemoglobin. CHr yang merupakan refleksi pembuatan hemoglobin yang terbaru di sumsum tulang juga merupakan cermin dari adanya cadangan besi yang adekuat. (Ketut, 2010).
Oleh karena itu, dilakukannya pemeriksaan retikulosit ini yaitu untuk mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini yaitu untuk mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
         Darah merupakan cairan tubuh yang bewarna merah dan terdapat di dalam sistem peredaran darah, tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. darah berfungsi memasukan oksigen dan bahan makanan ke seluruh tubuh serta mengambil karbon dioksida dan metabolit jaringan. mengetahui golongan darah seseorang sangatlah penting di ketahui untuk kepentingan medis yaitu salah satunya untuk transfusi. (Anita,2016)
         Retikulosit adalah sel dari seri eritroid tidak berinti yang dapat dilihat dengan pewarnaan supravital. Menurut NCLLS-ICSH 1997, retikulosit adalah sel yang dapat dilihat dengan pewarnaan supravital yang mewarnai asam nukelat dan harus mempunyai lebih dari 2 granula yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya dan granula tersebut tidak boleh berada di tepi membran sel. Pewarnaan supravital yang dapat digunakan adalah larutan Brilliant Cresyl Blue, New Methylene Blue, Azure B, Acridine orange untuk metoda visual dan zat warna fluorokrom seperti Thiazole orange, Auramine O, Oxazine dan Polymethine yang bisa digunakan pada metode otomatik. (Riadi, 2010).
Retikulosit yang sangat muda (imatur) adalah retikulosit yang dilepaskan kedarah tepi akibat adanya rangsangan akibat anemia dan halini disebut stressed reticulocyte. Retikulosit jenis ini mempunyai masa hidup invivo yangl ebih pendek apabila ditranfusikan kedalam resipien normal dan secara umum dianggap sel ini tidak normal karena tidak melalui perkembangan sel yang normal sampai kedivisiterminal dari perkembangan retikulosit. Sebuah studi ingin meneliti masa hidup dari retikulosit normal dan retikulosit stress ini baik pada pasien normal maupun pasien anemia. (Ketut, 2010).
Perhitungan retikulosit dengan cara otomatik menggunakan darah dengan anti-koagulan K3EDTA dicampur dengan zat warna polimetin yang ditembak oleh sinar laser, sehingga terjadi fluoresensi yang dapat ditangkap oleh “optical detector blocked”. Berdasarkan intensitas cahaya flourescence yang ditimbulkan oleh retikulosit, dibedakan menjadi retikulosit dengan Low Fluorescence Ratio (LFR), Middle Fluorescence Ratio (MFR) dan High Fluorescence Ratio (HFR). Penjumlahan dari HFR dan LFR retikulosit dilaporkan sebagai Immature Reticulocyte Fraction (IRF). Dengan alat tersebut di atas, retikulosit dapat dilaporkan secara relatif dalam satuan persen (%) atau secara absolut dalam mikroliter (µL)/darah. (Riadi, 2010).
       Parameter retikulosit yang lain yang bisa dihasilkan oleh analiser automatis adalah fraksi retikulosit muda (IRF). Retikulosit muda ini berkorelasi dengan tingkat floresensi yang tinggi pada flow sitometer dan ini diakibatkan oleh tingginya kandungan protein RNAnya. Retikulosit muda ini bisa digunakan sebagai indicator aktifitas eritropoietik. Oleh karena itu, pemeriksaan parameter ini kurang spesifik oleh adanya gangguan dan pengaruh leukosit dan juga kesulitan untuk standarisasi, penggunaan klinis dari pemeriksaan IRF masih sangat terbatas. Fraksi retikulosit imaturini mencerminkan derajat eritropoiesis akan tetapi tidak sebagai indikator adanya eritropoiesis yang ironrestricted. (Ketut, 2010).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi, lingkungan dan status kesehatan. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit cacing. (Zefika, 2019)
       Tubuh yang kehilangan darah akan menimbulkan respon eritropoetin yang diatur oleh hormon eritropoietin yang diproduksi oleh ginjal dalam enam jam, dan hitung retikulosit naik dalam dua sampai tiga hari. Angka ini akan tetap tinggi sampai kadar hemoglobin kembali. normal. Hitung retikulosit yang tidak meningkat pada seseorang memberi dugaan terganggunya fungsi sumsum tulang atau kurangnya rangsangan eritropoitin Tubuh yang kehilangan darah akan terjadi peningkatan jumlah retikulosit dan menandakan bahwa sumsum tulang bereaksi secara normal. Kehilangan darah biasanya menyebabkan retikulosis yaitu jumlah retikulosit meningkat dari nilai normal dalam waktu 1-2 hari dan mencapai puncaknya pada hari ke-4 sampai ke-7 (Yane, 2015)
      Hitung retikulosit yang meningkat pada kadar hemoglobin yang normal menunjukkan bahwa sel darah merah sedang mengalami kerusakan atau hilang, tetapi sumsum tulang telah meningkatkan produksi eritrosit untuk mengkompensasi kebutuhan tubuh. Pada kadar hemoglobin yang rendah, hitung retikulosit 0,5% sampai 2,5% mengisyaratkan bahwa respon terhadap anemia tidak memadai. Hal ini dapat terjadi akibat gangguan atau penurunan produksi sumsum tulang atau penurunan kadar eritropoietin. Apabila seseorang mengidap anemia, jumlah eritrosit yang beredar turun sehingga presentasi retikulosit “normal" (0,5%- 2,5%) akan meningkat. Pada defisiensi besi, terutama pada anemia akibat pengeluaran darah berkepanjangan, pemberian terapi besi menghasilkan respons retikulosit dalam 4 sampai 7 hari. (Zefika, 2019)
Hitung jumlah normal retikulosit adalah 0,5-2,5% dari jumlah absolute 25- 125x109 /l. Jumlah ini seharusnya meningkat pada anemia karena terjadinya peningkatan eritropoietin dan makin tinggi jika anemia makin berat. Kekurangan zat besi menimbulkan gangguan atau hambatan dalam pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Hingga saat ini pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan ditujukan khususnya pada ibu hamil sedangkan pada remaja putri jarang diperhatikan. Anemia dapat dicegah maka konsumsi makanan yang kaya zat besi perlu dilakukan dan juga diimbangi dengan pemberian tablet zat besi. (Zefika, 2019)
Tingkat maturitas retikulosit dapat menjadi indikator klinis aktivitas eritropoetik serta informasi tambahan yang berguna di samping nilai hitung retikulosit. Peningkatan retikulosit imatur umumnya terjadi pada regenerasi sumsum tulang pasca kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang dan pasca terapi anemia sehingga dapat digunakan untuk mengikuti hasil pengobatan anemia7 . Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan massa eritrosit dengan akibat oksigenasi jaringan tidak dapat terpenuhi. Beberapa jenis anemia yang ada pada pasien tuberkulosis yaitu anemia penyakit kronis, merupakan salah satu penyebab tersering anemia pada penderita. Anemia penyakit kronis ditemukan pada 72 % penderita tuberkulosis yang mengalami infiltrasi ke sumsum tulang. (Sri, 2018)
Pemeriksaan preparat apus darah tepi merupakan bagian yang penting dari rangkaian pemeriksaan hematologi. Keunggulan dari pemeriksaan apus darah tepi ialah mampu menilai berbagai unsur sel darah tepi seperti morfologi sel (eritrosit, leukosit, trombosit), menentukan jumlah dan jenis leukosit, mengestimasi jumlah trombosit dan mengidentifikasi adanya parasit. Tujuan dilakukannya pewarnaan pada preparat apus darah tepi yaitu agar memudahkan dalam melihat berbagai jenis sel dan juga dalam mengevaluasi morfologi dari sel-sel tersebut. International Council for Standardization in Haematology (ICSH) merekomendasikan metode pewarnaan Romanowsky karena pewarnaan ini mampu memberikan hasil memuaskan pada apusan darah tepi. Beberapa pewarnaan yang termasuk dalam metode pewarnaan Romanowsky yaitu pewarnaan Wright, Giemsa, WrightGiemsa, Leishman, May-Grundwald dan pewarnaan Jenner. Pewarna Romanowsky mengandung pewarna kationik atau basa seperti (1) azure B yang dapat memberikan warna biru-ungu atau biru pada inti sel, nukleoprotein, granula basofil dan granula neutrofil, dan (2) pewarna anion atau asam, seperti eosin Y dapat memberikan warna. (Rinny, 2018).













BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  Waktu
          Adapun waktu yang dilaksanakannya peda praktikum Hematologi III kali ini  yaitu :
Hari       : Sabtu
Tanggal : 25 April 2020
Pukul     :  08.00-10.00 WITA. 
B.  Alat Dan Bahan
1.  Alat
Mikroskop
Mikropipet 50ml + Tips kuning
Tabung Reaksi 12x75mm
Kaca objek
           2.  Bahan
Darah EDTA
Larutan BCB (Briliant Cresyl Blue)
Oil Emersi
C. Prinsip Kerja
     Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital.
D. Pra-Analitik
1.  Persiapan Pasien :
Tidak memerlukan persiapan khusus
2. Persiapan  Sampel :
  Tes sebaiknya   dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam darah dimasukkan kedalam   tabung EDTA.
     E.  Analitik
Disiapkan darah EDTA ±2cc
Dipipet 50ml larutan BCB, Masukkan dalam tabung reaksi
 Dipipet 50ml darah EDTA dan homogenkan bersama larutan BCB
 Diinkubasi campuran larutan  tadi selama 15-20’ pada suhu 37 derajat
Dibuat apusan dari campuran larutan seperti apusan darah tipis
Dikeringkan dan kemudian langsung baca dibawah miscroskop menggunakan pembesaran 100x
Diitung jumlah retikulosit dalam 1000 eritrosit.
F. Pasca Analitik
1. Dewasa : 0.5 - 1.5 %
2.  Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
3.  Bayi : 0.5 - 3.5 %
4. Anak : 0.5 - 2.0 %























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
B. PEMBAHASAN
Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organel abasofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang berupa endapan dan berwarna biru apabila di cat dengan pengecatan birumetilin. Retikulositakan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit
Adapun prinsip kerja dari pemeriksaan retikulosit yaitu setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital. Tujuan dilakukannya pemeriksaan ini yaitu untuk mengetahui jumlah sel didalam darah muda.
Pada tahap pertama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, kemudian di ambil reagen TBC (pemeriksaan retikulosit), dengan menggunakan pipet tetes, sebanyak 3 tetes dan dimasukkan kedalam tabung reaksi, setelah itu, ditambahkan darah yang ada dalam tabung EDTA dimasukan darah sebanyak 3 tetes, kemudian dihomogenkan dan di inkubasi selama 15 menit. Setelah diinkubasi diambil 1 tetes lalu diteteskan diatas objek glass. Selanjutnya dibuat apusan darah tepi dengan menggunakan kaca objek yang satunya. dengan cara di tarik secara perlahan-lahan hingga terbentuknya apusan yang menyerupai lidah kucing. Dikeringkan dan diamati dibawah mikroskop.
Adapun hasil yang didapatkan pada praktikum kali ini yaitu ditemukan sel darah merah muda yang tidak lagi mengandung inti dan masih memiliki sisa-sisa asam ribonukleat di dalam sitoplasmanya.  
Pada perbesaran 100X bentuk retikulosit dan eritrosit sudah dapat dilihat secara jelas. Bentuk retikulosit tampak seperti eritrosit namun memiliki ukuran yang lebih besar dengan bintik-bintik yang abnormal berwarna biru, dimana bintik-bintik berwarna biru ini merupakan sisa dari RNA yang basophilic.
Dalam pembacaan preparat, hitung retikulosit dimulai dari lapang pandang yang terdapat retikulositnya. Perhitungn terus dilakukan hingga dicapai jumlah eritrosit yang mendekati 1000, karena dalam menentukan jumlah retikulosit digunakan rumus: Jumlah retikulosit dibagi jumlah 1000 eritrosit di kali 100%. Apabila terdapat eritrosit yang saling bertumpukan dan memiliki jumlah eritrosit yang terlalu padat, maka eritrosit tersebut tidak perlu dihitung karena dapat mempersulit pada saat proses perhitungan.
Adapun nilai rujukan untuk jumlah retikulosit di dalam darah yaitu 0,5%-1,5%.







BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Didapatkan hasil jumlah retikulosit didalam sel darah merah, dengan menggunakan apusan darah tepi.
B. SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya. 






















DAFTAR PUSTAKA

Ardina, Rinny dan sherly. 2018. “Morfologi eosinophil pada apusan darah tepi menggunakan pewarnaan giemsa, wrigh, dan kombinasi wright-giemsa”. Palangkaraya :UMP

Anita, oktari dan Nida daeniur silvia.2016.”Pemeriksaan golongan darah sistem ABO metode slide dengan reagen serum golongan darah ABO”.Bandung: Sekolah tinggi analis bakti asih bandung.

Dewi Ratih,Dkk. 2017. “Perbedaan Hitung Jumlah Trombosit Metode Impedansi Langsung Dan Barbara Brown”. Semarang : Implementasi Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat

Ivana, Zefika Lutfi dan Lucia. 2019. “Pemeriksaan Jumlah retikulosit sebelum dan sesudah pemberian tablet tambah darah”. Surakarta : Universitas setia budi Surakarta

Idris, Sri Aprilianti, 2018. “Gambaran Retikulosit Terhadap pemberian obat anti tuberculosis (OAT) pada pasien tuberculosis paru dipuskesmas perumnas kadia kota kendari”. Kendari : Politeknik bina husada kendari

Liswati, Yane dan Firda. 2015. “Gambaran jumlah retikulosit sebelum dan setelah donor darah”. Tasikmalaya :STIkes BTH Tasikmalaya

Suega, ketut. 2010. “Aplikasi Klinis Retikulosit”. Denpasar : Universitas Udayana

Wirawan, Riadi. 2010. “Retikulosit”. Jakarta : Medika

Senin, 27 April 2020

Laporan tes darah rutin

LAPORAN HEMATOLOGI
 “PEMERIKSAAN TES DARAH RUTIN (TES SARING) MENGGUNAKAN ALAT AUTOMATIC”





NAMA            : ENCENG JULDATI NURSITA NUNDA
NIM : 18 3145 353 108
KELAS : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
        Darah merupakan jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai saran transport, alat hemoestatis dan alat pertahanan. darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit),sel darah putih (leukosit), dan keping sel (trombosit). cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum. (Dewi, 2017).
   Trombosit dapat di hitung secara langsung maupun tak lansung. secara langsung dilakukan secara manual yaitu dengan metode rees ecker ada cara tak langsung dengan metode fonio dan Barbara brown. setiap metode memiliki kelebihan dan kurangan masing masing. kelebihan dari hitung jumlah trombosit secara manual yaitu mudah dan sederhana tetapi kekuranga hitung trombosit secara manual yaitu pengamatan dengan mata seseorang sangat di pengaruhi oleh kemampuan dan ketahanan pengamat serta membutuhkan waktu yang cukup lama berbeda dengan cara sediaan apus darah tepi mempunyai kelebihan karena dapat mengamati ukuran dan morfologi trombosit, tetapi kekurangannya adalah penyebaran trombosit yang tidak merata karena perlekatan trombosit pada kaca sehingga menyebabkan penilaian jumlah trombosit yang berbeda beda. (Dewi, 2017)
Pemeriksaan hematologi yang termasuk dalam faal Hemostasis yaitu hitung trombosit. Salah satu pemeriksaan faal hemostasis yang penting adalah hitung trombosit. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menghitung jumlah trombosit yang ada pada tiap 1 ml darah. Penurunan jumlah trombosit yang signifikan akan berpengaruh dalam proses pembekuan darah  Sampel yang akan digunakan dalam pemeriksaan adalah darah vena dengan anticoagulant EDTA (Ethylendiamine Tetyraacetid acid) yang berfungsi untuk mencegah penggumpalan trombosit. (Sujud, 2015).
Oleh karena itu, dilakukannya praktikum pemeriksaan tes darah rutin ini yaitu untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih, kadar hemoglobin pada seseorang.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dilakukannya praktikum pemeriksaan tes darah rutin yaitu untuk mengetahui kondisi kesehatan, dan untuk mengetahui jumlah sel darah merah apakah lebih rendah dari jumlah normal atau tidak.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

       Darah merupakan cairan tubuh yang bewarna merah dan terdapat di dalam sistem peredaran darah, tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. darah berfungsi memasukan oksigen dan bahan makanan ke seluruh tubuh serta mengambil karbon dioksida dan metabolit jaringan. mengetahui golongan darah seseorang sangatlah penting di ketahui untuk kepentingan medis yaitu salah satunya untuk transfusi. (Anita,2016)
   Tes darah lengkap merupakan tes sederhana yang pertama kali dilakukan sebagai penunjang. Pada hasil laboratorium tes darah lengkap dapat dilihat adanya pansitopenia. Walaupun hal tersebut tidak menunjukan marker yang spesifik, dimana hanya menunjukan adanya pansitopenia serta harus memperhatikan kemungkinan diagnosis lain. Hasil dari pemeriksaan laboratorium tes darah lengkap akan disesuaikan dengan pemeriksaan fisik dan dikonfirmasi dengan dilakukannya aspirasi sumsum tulang belakang. (Dewa, 2019)
 Pemeriksaan panel hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit, eritrosit, hemoglobin,hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Pemeriksaan hitung darah lengkap terdiri dari hemogram ditambah leukosit diferensial yang terdiri dari neutrofil (segmented dan bands), basofil, eosinofil, limfosit dan monosit. Pada pemeriksaan darah lengkap untuk menentukan pansitopenia dapat dilihat dari jumlah eritrosit, leukosit dan trombosit, dimana nantinya akan disesuaikan degan gejala klinis yang ditunjukan oleh pasien. (Dewa, 2019)
  Perhitungan jumlah kandungan sel trombosit dalam darah adalah salah satu topik yang penting dalam menentukan beberapa masalah kesehatan atau penyakit. salah satu diagnose penyakit yang membutuhkan data jumlah sel trombosit adalah penyakit demam berdarah Deugle DBD. pada penyakit ini akan menurunkan kosentrasi trombosit darah sampai ketingkat rendah. (Dewi,2017).
   TLC dan kadar Hb sangat bermanfaat sebagai petanda untuk pemantauan seseorang yang terinfeksi HIV dan untuk memulai terapi terutama pada daerah dengan fasilitas terbatas. Sebagian besar penderita yang terinfeksi HIV yang akan berkembang menjadi AIDS mengalami penurunan yang cepat dari TLC dan Hb. Penurunan yang cepat dari kedua petanda ini membuktikan bahwa begitu pentingnya TLC dan Hb dalam perkembangan dan patogenesis penyakit sehingga dapat digunakan sebagai pengganti petanda dari CD4 dan Viral load. (Amraini, 2007). 
 Umumnya trombosit normal, trombositopenia ditemukan pada 3,33% pria sedangkan pada wanita tidak ditemukan. Pada penderita HIV trombositopenia akibat destruksi trombosit akibat antibodi terhadap antigen tertentu dari trombosit. Nilai rendah limfosit terdapat pada pria 46,67% dan wanita 10%, hal ini terjadi karena replikasi virus dalam sel merusak membran dan mengganggu fungsi sel, selain itu limfositopenia terjadi akibat kerusakan pada stem sel sehingga mempengaruhi produk limfosit. Umumnya netrofil normal, netropenia dijumpai pada pria 16,67%, wanita 10% pada penderita HIV netrofil umumnya normal namun apabila menurun kemungkinan disebabkan oleh infeksi oportunistik misalnya cytomegalovirus. (Amraini, 2007).
    Fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Masing-masing morfologisel mempunyai ukuran (diameter). Darah terdiri dari sel darah dan plasma. Dalam sel darah terdiri dari hemoglobin, eritrosit, hematokrit (PCV), retikulosit, laju endap darah, trombosit, lekosit dan hitung jenisnya dan hapusan darah tepi. (Devie, 2015)
     Hemoglobin atau HB merupakan salah satu dari sekian banyak tolak ukur  untuk melihat apakah ada penyakit anemia atau tidak. Hemoglobin adalah suatu protein yang berada didalam darah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. (Eko, 2008).
      Hemoglobin terdiri dari kata "haem" dan kata "globin", dimana haem adalah Fe dan protoporfirin adalah mitokondria, globin adalah rantai asam amino (1 pasang rantai α dan 1 pasang non α). Hemoglobin adalah protein globular yang mengandung besi. Terbentuk dari 4 rantai polipeptida (rantai asam amino), terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai beta. Masing-masing rantai tersebut terbuat sadri 141-146 asam amino. Struktur setiap rantai polipeptida yang tiga dimensi dibentuk dari delapan heliks bergantian dengan tujuh segmen non heliks. Setiap rantai mengandung grup prostetik yang dikenal sebagai heme, yang bertanggug jawab pada warna merah pada darah. Molekul heme mengandung cincin porphirin. Pada tengahnya, atom besi bivalen dikoordinasikan. Sel darah merah merupakan komponen esensial pada tubuh manusia yang pada keadaan normal selalu berbentuk bikonkaf, tak berinti dan berfungsi sebagai pembawa oksigen. Fungsi utama dari sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga mempunyai fungsi lain. Hemoglobin merupakan dapur asam-basa (seperti juga pada kebanyakan protein), sehingga hemoglobin bertanggung jawab untuk sebagian besar daya transportasi seluruh darah. (Devie, 2015)
     Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin dan sel darah merah (eritrosit) pada seseorang adalah makanan, usia, jenis kelamin, aktivitas, merokok, dan penyakit yang menyertainya seperti leukemia, thalasemia, dan tuberkulosi. Makanan merupakan zat-zat gizi atau komponen gizi yang terdapat dalam makanan yang dimakan digunakan untuk menyusun terbentuknya hemoglobin yaitu Fe (zat besi) dan protein. Jenis kelamin perempuan lebih mudah mengalami penurunan dari pada laki-laki, terutama pada saat menstruasi. (Dwi, 2015)
  Trombosit berperan penting dalam mengontrol perdarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler, trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut. Fungsi utama trombosit adalah pembentuk sumbatan mekanis selama respon haemostati normal terhadap luka vascular. Darah yang sudah tersimpan lebih dari 24 jam tidak lagi mengandung trombosit yang masih berfungsi atau faktor koagulan V dan VIII dalam jumlah. Tanpa trombosit, dapat terjadi kebocoran darah spontan melalui pembuluh darah kecil. Kelainan perdarahan dapat disebabkan oleh kekurangan trombosit ataupun faktor pembekuan dalam sirkulasi darah. Fungsi trombosit dalam plasma darah dapat terganggu akibat insufisiensi sumsum tulang, kerusakan limfa meningkat, atau abnormalitas trombosit beredar. (Brunner, 2010)
Sel-sel darah terdiri dari leukosit (sel darah putih), fungsinya menjaga sistem kekebalan tubuh dan dapat membunuh bakteri atau virus yang coba masuk kedalam tubuh. Eritrosit (sel darah merah), trombosit (keping-keping darah) . (Habibah, dkk, 2016).



























BAB III
METODE PERCOBAAN
A. ALAT DAN BAHAN
1. Hematology analyzer
2. Sampel darah
3. Tabung EDTA
4. Spoit
5. Torniquet
B. PRINSIP PERCOBAAN
       Adapun prinsip dari pemeriksaan darah rutin ini yaitu, pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. . Prinsip alat ini didasarkan pada system flow cytometer yaitu system yang memungkinkan sampel  darah bisa mengalir melalui celah yang sempit sehingga jumlah sel darah dapat dihitung.
C. PRA ANALITIK
     1)   Persiapan pasien :
   Tidak memerlukan persiapan khusus
     2)   Persiapan  sampel :
 Tes sebaiknya   dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam darah dimasukkan kedalam tabung EDTA.
D. ANALITIK
CARA KERJA
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
Dibersihkan area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah, dengan menggunakan larutan antiseptic.
Dipasang tourniquet diatas area penusukan
Dimasukan jarum kedalam pembuluh darah vena
Ditutup bekas tusukan dengan menggunakan perban
Diberi label berisi nama dan dibawa kelaboratorium.
Sampel darah yang akan digunakan harus dipastikan sudah homogeny dengan menggunakan antikoagulan
Ditekan tombol whole Blood “WB” pada layar monitor
Ditekan tombol ID dan masukkan nomor sampel yang akan digunakan, lalu tekan enter
Ditekan bagian atas dari tempat sampel danletakkan sampel kedalam adaptor
Ditutup tempat sampel hingga rapat kemudian tekan “RUN”
Secara otomatis hasil akan muncul pada layar
Mencatat hasil dari pemeriksaan.
E.  PASCA ANALITIK
    1) Hemoglobin (Hb) 
         Pria dewasa : 14-18 gr/dl
         Wanita dewasa : 12-16 gr/dl
         Anak – anak : 10-16 gr/dl
         Bayi baru lahir : 12 - 24 gr/dl
     2)  Hematokrit (Ht)
          Pria dewasa : 40-48 %
         Wanita dewasa : 37-43 %
    3)  Leukosit : 4.500 – 10.000 sel/mm3
     4)  Eritrosit
       Pria dewasa : 4,5 – 6,2 juta/ mm3
       Wanita dewasa : 4,0 – 5,5 juta/ mm3
     5)  Trombosit : 150.000 – 400.000  sel/mm3
     6)  LED (Laju Endap Darah)
         Pria : <15 mm/jam
         Wanita : <20 mm/jam





BAB IV
PEMBAHASAN

  Tes darah lengkap merupakan tes sederhana yang pertama kali dilakukan sebagai penunjang. Pada hasil laboratorium tes darah lengkap dapat dilihat adanya pansitopenia.
     Prinsip dari pemeriksaan darah rutin ini yaitu, pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. Prinsip alat ini didasarkan pada system flow cytometer yaitu system yang memungkinkan sampel  darah bisa mengalir melalui celah yang sempit sehingga jumlah sel darah dapat dihitung.
Pada kasus pertama yaitu darah pada tabung EDTA dimasukkan dalam alat analyzer automatic, ditekan tombol hijau dan alat analyzer ini akan menyedot darah secara otomatis selama satu menit. Dan dilihat hasilnya pada alat pada kasus pertama hemoglobin memiliki nilai hasil 14,8 g/dL dimana berada diambang normal, RBC (Eritrosit) memiliki nilai 5,13 106/uL berada diambang normal, HCT (Hematokrit) memiliki nilai 42,5 % berada diambang normal, nilai MCV (82,8fL), MCH (28,8pg) dan MCHC (34,8) dimana ini semua berada diambang normal. Dimana pada hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak ada kelainan ditrombosit. karena nilai-nilai untuk melihat nilai trombosit semua berada diambang normal. Pada WBC (Leukosit) memiliki nilai 10,0 103uL dimana berada diambang normal, ada kesalahan yang terjadi pada NEUT%, karena tidak melakukan diskriminasi sel, dimana alat ini memiliki kebingungan menghitung jenis leukosit, tidak dapat membedakan jenis-jenis selnya. Sehingga perlu dilakukan diskriminasi secara manual, dimana nilai Limphosit 38% berada diambang normal, nilai platelet 59.000 dimana nilainya dibawah nilai normal. Sehingga pada kasus ini pasien dapat dikatakan bahwa mengalami penyakit trombositopenia. Ini bisa terjadi trombositopenia murni atau karena kasus demam berdarah. Jika kasus tersebut mengatakan bahwa kasus dbd maka yang dilihat adalah nilai hemoglobin dan hematokritnya dan nilai HCT dan HGB normal sehingga ini bukan karena DBD. Dimana, jika seseorang memiliki penyakit trombositopenia ini yaitu dikarenakan jumlah nilai trombositnya dibawah nilai normal. 
     Faktor-faktor terjadinya trombositopenia yaitu sering terjadi komplikasi perdarahan dan fungsi trombosit yang abnormal.  Trombositopenia dapat menyertai beberapa keadaan seperti infeksi virus,kemoterapi dan ITP. 
  Adapun nilai kurva pada histogramnya yaitu, untuk WBC atau leukosit sel darah putih, ada garis 3 bagian yaitu bagian pertama tidak terbaca, pada garis kedua limfositnya tinggi, RBCnya dalam batas normal karena kurva atau garisnya menunjukan tinggi naik keatas, bahwa dominasi sel-sel yang paling terbanyak dan pada nilai plateletnya menunjukkan garis kurvanya lebar, pada nilai PDWnya 21,1 artinya selnya ini terbagi menjadi platelet keci, platelet besar dan platelet besar sekali. ada platelet yang menujukkan platelet sedang karena pada usia muda ukuranya agak besar dan jika sudah tua plateletnya kecil dan ada grafik yang naik keatas maka ini tidak bisa membedakan platelet berukuran besar atau kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai platelenya rendah tetapi bervariasi.
  Pada kasus yang ke dua hasil yang didapatkan dari alat analyzer ini yaitu yang pertama dilihat warna pada hasil terlebih dahulu. Jika nilai berwarna biru maka artinya rendah, jika hitam artinya normal sedangkan jika berwarna merah makan nilai berada diatas nilai normal. Dimana nilai hemoglobin menghasilkan 12,4 g/dL berarti berada diambang normal, nilai RBC (5,39) berada di ambang normal, Tetapi nilai MCV 72,0, MCH 23,0 dan MCHC 32,0. Dimana nilai ini berada dibawah nilai normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi mikrositik hipokrom yang ukuran selnya kecil-kecil dan pucat. Tetapi nilai Hb pada hasil ini yaitu 12,4 g/dL berada di ambang normal. Dan nilai plateletnya yaitu 209, dimana nilai ini berada di ambang normal dan WBCnya 12,0 dimana nilai pada leukosit ini yaitu melebihi nilai normal dengan dominasi neutrophil yaitu 92%, MXD yaitu 2% dimana ini berada di bawah nilai normal, Adapun MXD ini berisi basofil, eosinophil dan monosit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa leukositosis normal morfologinya kecil-kecil dan pucat. Adapun nilai pada grafiknya yaitu yang pertama nilai WBC kurva yang ditujukan tegas dan terbagi menjadi 3 bagian sehingga dapat dikatakan bahwa ini dapat membagi jenis-jenis eusinofil, yang paling rendah adalah MXD, dan tingginya histograf bisofil. Sementara pada RBC garis kurvanya tergeser sedikit ke kiri ukuranya mengecil. Sedangkan pada platelet ukuranya kecil-kecil, namun garis grafik ujung dari platelet ini membaca ukuran eritrosit yang kecil-kecil.



























BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan pada praktikum kali ini yaitu pada kasus pertama nilai eritrosit normal dan nilai leukosit terjadi deskriminasi sel sehingga sulit untuk membedakan jenis-jenis selnya. Sedangkan pada kasus kedua didapatkan hasil bahwa terjadi mikrositik hipokrom yang ukuran selnya kecil-kecil dan pucat. dan juga leukositosis normal morfologinya kecil-kecil dan pucat.
B. SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya. 
















DAFTAR PUSTAKA
Anita, oktari dan Nida daeniur silvia.2016.”Pemeriksaan golongan darah sistem ABO metode slide dengan reagen serum golongan darah ABO”.Bandung: Sekolah tinggi analis bakti asih bandung.

Amraini, Afiah, dkk. 2007. “Profil tes darah rutin dan jumlah limfosit total pada penderita HIV/AIDS”. Makassar: UNHAS

Brunner, suddarth. 2010. “Trombosit”. Jakarta : EGC

Dewi, Maharani ratih,dkk.2017.”perbedaan hitung jumlah trombosit metode impedansi, langsung dab Barbara 

Dewa, Andyani, dkk. 2019.”Gambaran pemeriksaan laboratorium darah lengkap pada pasien anemia aplastic”. Denpasar: Universitas Udayana

Devie, anamisa rosa.2015. “Rancang bangun metode OTSU untuk deteksi hemoglobin”. Madura: Universitas Trunojoyo Madura

Dwi, saputro aries dan said. 2015. ”pemberian vitamin C pada ltihan fisik maksimal dan perubahan kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit”. Semarang: UNS

Eko, Bastiansyah. 2008. “Membaca hasil tes keseshatan”. Jakarta :Penebar Plus 

Habibah,dkk.2016.”Gambaran jumlah trombosit pada perokok aktif dan pasif”.Jawa tengah:Candy mulyo  

Sujud, Dkk. 2015, “Perbedaan Jumlah Trombosit Pada Darah EDTA Yang Segerah Di Periksa Dan Penundaan Selama 1 Jam Di Laboratorium RSJ Gharasia Yogyakarta”. Yogyakarta : Medical Laboratory Tecnologi Journal.